Kamis, 04 Juni 2015

Culture Folk Villages ( Shenzhen Hongkong p.1)

Miskomunikasi dan tiket murah menyebabkan aku mengulang tiba ke Hongkong. Seperti biasa, aku selalu "resah" kalau belum memiliki tiket perjalanan untuk beberapa bulan ke depan. Setelah mempertimbangkan waktu yang hanya 4 hari, negara / kota yang ingin kukunjungi dan biaya, maka kuputuskan untuk mengunjungi Shenzhen. Aku sudah 4 x ke China tetapi belum pernah menginjak Shenzhen yang begitu popular di mata wisatawawan Indonesia. Tiket sudah kubeli, suami mengatakan dia sudah pernah ke Shenzhen. Karena tujuan utamaku ingin melihat sesuatu yang bersifat budaya, mnaka aku hanya perlu 1 hari untuk kunjungan ke Splendid China dan Culture Folk Villages. Sisa hari untuk kurencanakan untuk mengunjungi Guangzhou yang sudah pernah kudatangi. Ternyata suami tak mau ke sana karena sudah pernah ke situ. Akhirnya diputuskan ke Hongkong. Nah, masalah datang. Karena rutenya Jakarta - Shenzhen - Hongkong - Shenzhen - Jakarta maka aku harus punya double entry visa daun urus di Jakarta. Bagaimana pun, perjalanan harus dilaksanakan apa pun resikonya. Day 1 Jkt KL SZ Perjalanan lancar saja dengan transit di KL. Tiba di Shenzhen airport, bersama dengan penumpang lokal, kami naik bus menuju Metro Station yang akan membawa kami ke kota. Di catatanku, sebetulnya aku bisa langsung naik Metro dari airport, tapi kenapa ini mesti naik bus dulu. Kebingungan pertama ! Aku masuk ke gerai Mc Donald, beli sesuatu untuk anakku dan berharap ada staff yang mampu berbahasa Inggris. I speak zero Mandarin !!! Dengan komunikasi yang terbatas, aku disarankan untuk naik bus no 416 ke Metro Station berikut. Yah, kuikuti instruksinya. Dan untungnya ada banyak penumpang lokal dengan tujuan yang sama. Perjalanan ke penginapan hanya kurang dari RMB 10 per orang. Tiba di Laojie, kami keluar station dengan sedikit kebingungan mencari apartemen tempat kami akan menginap. Zero Mandarin, gelap serta lokasi apartment yang kurang terkenal membuat kami menyerah dan memanggil taxi. Ampun.. rupanya lokasi apartemen di seberang jalan saja. Apartemen cukup untuk kami bertiga. 2 orang di kamar tidur , 1 orang di sofa bed ruang tamu. Ada dapur tapi tanpa alat masak kecuali cerek listrik dan gelas untuk sikat gigi dan kamar mandi yang huh... aku paling tak suka, pakai kaca susu yang transparan. Lumayan deh daripada di Guangzhou, pakai kaca bening) Hampir pk 22, saatnya makan malam sebelum tidur. Adanya mie buatan suku minoritas China Muslim. Restoran China Muslim adalah salah satu favoritku karena makanannya cocok di lidahku, harganya oke dan yang penting ada gambarnya sehingga tidak salah pilih. Makanan mereka jarang memakai sayur berdaun, halal dan mie nya langsung dibuat saat itu. Lamian itu nama populernya di Jakarta.
Day 2 Pagi pertama di Sz. Aku senang mengunjungi kota2 di China karena jalan-jalannya yang lebar dan bersih. Dulu, China terkenal jorok. Tetapi sekarang makin bersih. Bahkan dalam perjalanan kali ini aku selamat dari toilet jorok. Biasanya pasti kena 1-2 kali.
Tujuan hari ini adalah mengunjungi Splendid China dan Culture Folk Villages. Shenzhen adalah kota baru. Jadi tak ada peninggalan budaya China yang asli. Yang akan kukunjungi ini kalau di Indoesia adalah TMII. Tetapi taman yang di Shenzhen ini tiket masuknya jauh lebih mahal. RM 180. Aku keluarkan USD 100 untuk bertiga, belum termasuk biaya makan dan minum. Tetapi kalau pengaturan waktu kita tepat, yakni bisa menyaksikan seluruh pertunjukan budaya yang terjadwal di situ, harga tiket segitu tidaklah mahal.
Tips : Datang awal, saksikan semua pertunjukan budaya terlebih dahulu. Setelah itu kunjungi Splendid China. " Rain and Wind bridge " Jembatan yang sengaja dibuat untuk melindungi pejalan dari hujan dan angin. Di situ disediakan tempat untuk berteduh dan beristirahat. Aku juga nebeng tidur siang di situ.. Nikmat karena di atas air dan angin juga berhembus sepoi-sepoi. Berikut adalah beberapa rumah adat suku minoritas China. Di sini tampak jelas bahwa ada kemiripan rumah adat di China dengan yang ada di indonesia. Jadi, sebenarnya penduduk di bumi indonesia berasal dari tempat yang sama. Maka itu tidaklah tepat bila mengatakan bahwa orang seperti aku ini berbeda statusnya dengan penduduk " pribumi ". Nyatanya, kita berasal dari tempat yang sama. Aku menyesal tidak mengatur waktu dengan baik sehingga hanya beberapa pertunjukan budaya yang bisa aku nikmati karena masalah waktu. Suku minoritas China Muslim dari Xinjiang mengajak pengunjung ikut menari dengan musik dan gerakan yang dinamis Kalau melihat penampilan dan warna kulit, siapa menyangka itu orang dari negeri China ? Beberapa pemandangan menarik tetapi buatan...

Tidak ada komentar: