Kamis, 21 Juni 2018

West Europe April 2017

Keinginan untuk melakukan perjalanan ke Eropa sudah ada sejak lama dan baru mendapat kesempatan setelah berhasil mendapatkan tiket 'murah' di saat yang tepat. Harga ticket Rp.7,200.000 KL - Amsterdam pp by Emirates dan Rp 1,200.000 Jkt - KL by Lion  dan KLM.
Karena ini untuk pertama kalinya dan masih merasa gamang dengan suasana Eropa yang belum pernah dikunjungi serta ingin mengunjungi beberapa negara sekaligus, maka perjalanan ini menggabungkan  2 tipe perjalanan : perjalanan mandiri dan tour.

Adapun rutenya sebagai berikut : Amsterdam - perjalanan mandiri sampai tiba di Paris, Perancis.  Lanjut dengan tour mulai dari Paris - lucerne Switzerland - Milan, Venice, Rome, Vatican City , Arezo, Florence, Pisa, Genoa di  Italia - Monaco - Nice, Cannes, Avignon di Perancis dan tour berakhir di Paris. Selesai dengan tour di Paris, saya lanjutkan dengan perjalanan mandiri di Paris, menuju Brussels di Belgia dan kembali ke Amsterdam.

Dengan menggabungkan 2 tipe perjalanan ini , ada banyak kota yang dapat dikunjungi.
Namun karena pada waktu ikut tour , waktu kunjungan begitu singkat dan  sudah terjadwal , maka sepertinya pengalaman tersebut tidak melekat. Kami hanya naik turun bus, menuju ke atraksi, belum puas sudah harus kembali ke bus.

Sedangkan pada perjalanan mandiri, semua mesti diatur sendiri. Pengalaman berinteraksi dengan warga lokal sangat sering. Adanya peristiwa-peristiwa seperti mencari moda transportasi termurah, mencari lokasi tujuan wisata dan pengalaman tak terduga lainnya membuat perjalanan lebih berkesan dan puas. Ibaratnya, kalau dengan tour, kami melihat bagian kulitnya, sedangkan perjalanan mandiri membuat kita melihat bagian dalamnya.

Mana yang saya suka ?
Kombinasi ke duanya cukup oke. Mungkin yang perjalanan mandiri perlu ditambah waktunya.

Rabu, 20 Juni 2018

Singapore Pilgrim Oct 2017

Sebagai umat Katolik, kami mempunyai kegiatan ziarah ke Goa Maria di bulan Mei atau Oktober.
Demikian pula ini keinginan ini timbul  saat  teman saya bertanya apakah saya pernah mengadakan ziarah ke 9 Goa Maria di Singapore. Tidak lama setelah menentukan jadwal dan mencocokkan dengan harga tiket / paket murah (wajib itu !), kami berdua berangkat ke Singapore dengan harga paket sekitar Rp. 1.250.000 untuk 3D2N (pesawat dan hostel). Untuk ke lokasi 9 gereja, kami memanfaatkan Singapore Tourist Pass 3 hari seharga SGD20an. Kami bisa naik MRT dan bus sepuasnya dengan pass tersebut. Total biaya yang kami keluarkan tidak sampai 2 juta rupiah.

Kami memilih hostel di Chinatown yang memudahkan kami untuk mencari makan dan menuju MRT yang tak sampai 100 m jaraknya dari hostel. Selain demi penghematan finansial (makanan di Chinatown relatif murah dan bervariasi) , kami juga menghemat waktu dan  tenaga.
Mau makan, mau shopping, semua ada di Chinatown. 

Sengaja saya mencari lokasi gereja Katolik di seluruh penjuru mata angin agar kami bisa juga menikmati Singapore tidak hanya di pusat kotanya tapi sampai ke pinggirnya. Kami juga menyempatkan masuk ke Garden Bay dan Harbourfront demi mencari Irvin's fish skin yang tersohor.

Perjalanan menuju tiap lokasi berbeda. Ada yang rada jauh dan berganti kereta, ada yang bisa sekali tempuh , ada yang mesti harus ditambah jalan kaki. Itulah resiko sebuah petualangan. Melelahkan ya, tapi bagi saya yang memang suka tantangan, ini bukan apa-apa. Akhirnya 9 gereja terkunjungi.
Yang agak membedakan dari gereja di Jakarta adalah beberapa gereja yang kami kunjungi juga memiliki kolumbarium, yakni tempat menyimpan abu jenazah.
St Theresa

St Theresa

St Theresa

Novena Church 

Novena Church 

St Joseph 








Church of Immaculate Heart of Mary 

Our Lady of Lourdes





Church of the Holy Family 

Church of Ignatius of Loyola 



Hostel minimalis yang bersih 

Myanmar

Kata orang yang pernah mengunjungi Myanmar, negeri ini indah, Maka, pada Desember 2016 kami sekeluarga, bapak, ibu dan 2 anak dewasa ingin membuktikan keindahannya.
Seperti biasa low-cost airlines Air Asia jadi pilihan meskipun kami harus transit dan menginap di bandara Kuala Lumpur.

Tujuan pertama adalah Yangoon, salah satu kota utama di Myanmar dimana Kuil Shwedagon berada. Saat kunjungan, Shwedagon cukup ramai dengan pengunjung, baik turis maupun warga lokal yang mau beribadah. Selain berlapiskan emas, yang menarik adalah lantai. Pengunjung wajib melepas sandal/sepatu. Tadinya saya meragukan apakah kaki saya akan kuat menahan panas di lantai yang terpapar matahari langsung. Dugaan saya salah, lantai tetap dingin karena terbuat dari marmer alam. Bagian lantai  yang rusak, diganti dengan keramik atau sejenisnya yang panas bila terpapar matahari.


Selain Shwedagon, tempat yang bisa dikunjungi adalah alun-alun Yangoon dimana gereja, kuil, mesjid terletak berdampingan. Sebagai turis, saya tidak melihat adanya konflik diantara warga seperti masalah Rohingya yang digembar-gemborkan dunia. Saya menjumpai suku Rohingya yang penampilannya secara fisik berbeda dengan orang Myanmar. Keadaan kota juga aman. Alun-alun adalah pusat keramaian Yangoon dimana ada banyak pusat jajan tradisional dimana pengunjung duduk di bangku rendah di sekitar penjual. Harga makanan di Yangoon juga tidak terlalu mahal. Yang unik dari transaksi makanan adalah bon makanan. Pajak diwujudkan dalam bentuk meterai.


Ada pasar utama di Yangoon dimana saya membeli beberapa lukisan kanvas dengan harga yang relatif murah. Dengan USD 225 saya bisa mendapat 5 lukisan berukuran cukup besar. Transaksi di Yangoon sebagian menggunakan USD. Transportasi menggunakan taxi dan kita perlu menawar dulu.

Kota selanjutnya adalah Bagan. Perjalanan Yangoon ke Bagan ditempuh dengan bus malam dan sebelum tiba di Bagan kita diwajibkan membayar sebesar USD25/orang untuk perawatan kuil di Bagan. Memang wajar kalau harus dipungut di awal sebab di Bagan ada ratusan kuil besar dan kecil yang bisa dilihat dari kejauhan sehingga tidak memungkinkan memungut biaya perawatan tepat di lokasi. Saya dan keluarga memilih menyewa 2 motor listrik untuk menjelajah kota Bagan. Ini lebih baik daripada mobil ataupun kereta kuda. Motor bisa masuk sampai di depan kuil, mudah dikendarai dan murah serta bisa sesuai kehendak kita karena kita tidak harus bertenggangrasa dengan peserta lain bila mengikuti tour dengan bus. Kereta kuda juga tidak bisa menjelajah sejauh motor.
Saya sungguh menikmati 2 hari di Bagan, meskipun warung makanan di sini lebih sederhana dari yang ada di Yangoon



Perjalanan selanjutnya adalah Mandalay. Jujur, ini negara yang paling tidak nyaman untuk transportasi darat selain Cambodia. Jalanan berdebu, pemandangan tidak bagus , kumuh dan wilayahnya masih belum tersentuh pembangunan secara maksimal. Mandalay ternyata lebih bersih dan lebih nyaman daripada Yangoon yang kotanya terasa lebih kumuh.
Jalanan di Mandalay besar dan bersih. Saya menyewa taxi untuk mengunjungi daerah wisata di sana.





Saya sengaja datang di satu vihara  untuk melihat ritual makan pagi dimana para bhiksu muda melayani biksu yang lebih tua. Ternyata anak-anak tetaplah anak-anak meski mereka berpakaian bhiksu. Mereka tetap bercanda bila tak ada yang mengawasi.
Dan saya melihat ada papan aturan hidup yang sangat bagus bila semua orang menjalankannya.


Agak jauh dari Mandalay dan bisa ditempuh dengan taxi, sambung dengan kapal dan kereta kuda, saya menyaksikan kehidupan pedesaan di sana.





Ada juga satu tempat menarik yaitu jembatan yg begitu terkenal dimana orang pada berkumpul saat sunset.







Di Mandalay ini saya sempatkan melihat sebuah kuil  cantik dimana banyak orang berdatangan untuk melihat sunrise dari ketinggian. Kami berangkat subuh saat masih gelap dan lebih terpukau dengan keindahan bagian dari kuil tersebut.







Inle Lake tidak boleh dilewatkan. Ini adalah sebuah tempat wisata danau dengan perkampungan airnya. Ada restoran dan home industri. Saat kita menyewa perahu, ada paket yang bisa dipilih. Perjalanan cukup menyenangkan karena diselingi dengan kunjungan ke produsen kerajinan tangan, resto dan kebun di atas air.






















Seusai dari Inle Lake , kami kembali ke Yangoon untuk pulang ke Indonesia melalui Kuala Lumpur.
Saya menyempatkan naik KRL yang mengelilingi kota Yangoon, namun yang saya dapatkan hanya kekecewaan yang besar. KRL  dipenuhi dengan warga lokal, pedagang asongan dan sejumlah turis yang saya kira juga "terjebak". Habis waktu, tapi yang saya saksikan hanyalah kejorokan kota Yangoon.