
METRO MANILA

Karena tidak tahu tempat, tidak banyak kendaraan yang beroperasi serta malam yang gelap, pada malam pertama hari pertama, aku berempat makan di warteg setempat. Dengan sedikit kecewa aku memesan makanan yang paling sedikit mengandung daging babi. Makanan yang kulihat tampak berlemak, berbumbu dan banyak mengandung daging. Aku tidak pantang daging babi, tetapi baru kali ini mengenal makanan Filipina, jadi masih dalam taraf coba-coba. Aku memang kurang berani mencoba makanan yang aneh-aneh. Bagiku, makanan harus kelihatan sedap dipandang agar lebih mudah masuk ke perut. Murah…! Mungkin hanya sekitar Rp. 50.000 berempat.
HARI KEDUA - Sabtu 3 April 2010 , Chinatown, Intramuros, Roxas Blv, Misa
CHINATOWN

INTRAMUROS
Intramuros, daerah wisata yang wajib dikunjungi terletak tak jauh dari Chinatown. Kalau buta arah, paling pas naik taxi.
href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhXaQQMkhT2rNe1RIPR3R03pBBxYqy8SgSNpDYoMG8WDMjBPZTKBgI4U693A7eWNhutAFZYRp14gG9kCgkCkG20R3WHNBTYhFo82YCvC4AkVfLDx5DuJ2yCK7Dkq8N9NkWOUOnR-bGtiC0/s1600/100_3129.jpg">

Sebelum meninggalkan Kathedral, aku berjalan-jalan di taman di depannya dan juga melihat bangunan gedung pemerintahan yang berarsitektur jaman kolonial yang terletak di sebelah kanan gereja yang sudah dijadikan atraksi wisata. Sayangnya, aku datang bertepatan dengan hari raya Paskah yang dirayakan oleh sebagian besar masyakat Manila bahkan mungkin Filipina. Gedung ditutup untuk umum.

Kira-kira 5 menit kemudian dengan berjalan kaki, aku sudah tiba di gerbang Intramuros.

Ada Fort Santiago, benteng pertahanan Spanyol yang berlokasi di utara kota bertembok tersebut. Ada Baluartillo De San Francisco Javier yang dijadikan pusat informasi turis. Ada toko museum yang menjual koleksi berkaitan dengan Intramuros seperti barang cenderamata, kipas, barang keramik, pembatas buku dan masih banyak lagi.The Shrine of Our Lady of Guadalupe adalah gereja kecil yang dibangun pada 1773. Rizal Shrine dan Baluarte de Santa Barbara adalah tempat dimana sejarah pahlawan Filipina Dr. Jose Rizal bisa dilihat. Ada jejak langkah kaki tercetak di tanah dimulai dari rumah penahanan sang pahlawan hingga ke tempat eksekusi. Almacenes Reales adalah gudang kerajaan yang digunakan oleh militer pada jaman pendudukan Spanyol, Amerika dan Jepang.


Di ujung Intramuros berbatasan dengan tembok keliling, ada bekas-bekas lubang di bawah tanah , tempat menyekap warga sipil Filipina tanpa diberi makan. Ruangan di bawah tersebut pasti akan sangat menyeramkan bila kita datang di malam hari. Sekarang, lubang-lubang yang masih menganga berukuran kira-kira 4x4 tersebut beserta ditutup dengan palang besi. Aku tak tahu seberapa besar ruangan di dalamnya.
Dari salah satu sisi Intramuros, aku bisa melihat Pasig River, sungai yang membelah Metro Manila. Sebelum keluar dari Intramuros, aku berjalan-jalan di taman yang luas. Taman terbuka ini terletak di tengah-tengah Intramuros dengan bangunan-bangunan tersebut di atas terletak di sebelah kanan-kirinya. Taman ini diatur dengan indah dan kelihatan cukup bersih.


Intramuros memang wajib dikunjungi. Aku bayangkan seandainya bisa memasuki semua tempat-tempat dan ruang di Intramuros, pasti akan ada banyak hal yang menakjubkan. Dalam keadaan tertutup pun, Intramuros, sudah cukup membuat aku terpesona.
Di sebuah sudut jalan, ada semacam tugu untuk memperingati korban perang yang terdiri dari warga sipil. Filipina sungguh tahu menghormati pahlawannya
Pemandangan kontras bisa kusaksikan di sekitar hostel. Hostel hanya berjarak 50 meter dari gerbang kuburan Cina. Di dalam dan di luar gerbang kuburan, pemandangan sangat berbeda. Rumah sederhana semi permanen berderet, terlihat kumuh. Lengkap dengan segala kendaranan dan barang terparkir di depannya. Ini rumah orang hidup, lho…! Sementara kuburan tampil bak rumah real estate yang mahal. Sungguh ironis membandingkan kondisi hunian orang mati dan orang hidup di tempat ini. Anehnya pula, hostel tempat aku menginap, sebuah chateau bertingkat tujuh yang mewah terletak persis di depan pemukiman sederhana ini
ROXAS BOULEVARD
Keluar dari gerbang kuburan, aku memutuskan untuk melihat Roxas Boulevard yang terkenal di Metro Manila.
Pukul 18 aku bersama keluarga bersiap-siap untuk mengikuti Misa malam Paskah di gereja Chinatown. Dalam kegelapan, aku masuk bersama keluarga ke dalam gereja. Heran, belum banyak orang…! Kalau di Tangerang, gereja pasti sudah penuh. Pintu gereja ditutup menyisakan celah beberapa centimeter. Aku menunggu kapan umat segera masuk ke dalam gereja. Hampir 1 jam , aku menunggu, gereja masih sepi juga.
HARI KETIGA - Minggu 4 April 2010 Mall of Asia, Rizal Park, Quezon City
Jalanan sudah mulai ramai. Warga kota sudah mulai beraktifitas.
MALL OF ASIA
Akhirnya, dengan jeepney itu aku memasuki mal yang cukup terkenal di Metro Manila. Wow… kemewahan sangat terasa begitu kita sampai di pelataran mal yang megah ini. Sebenarnya, aku tidak begitu tertarik dengan isi mal, tapi mal pasti punya sesuatu yang unik. Itu aku temukan di salah satu kaunter makanan yang berderet indah di halaman luar. Ada berbagai masakan unik antara lain ayam umur sehari goreng atau balut goreng tepung. Balut adalah makanan khas Filipina berupa telur bebek yang embrionya sudah terbentuk. Aku pernah membelah sebuah balut rebus dan di tengah –tengah putih telur, ada seonggok janin bebek setengah jadi. Ih…serem…!
Aku kurang suka dengan Metro Manila di waktu malam. Dimana-mana gelap. Quezon City yang kulewati juga menampilkan daerah sederhana. Hampir tidak ada bangunan baru yang megah. Tidak ada yang istimewa dari daerah ini kecuali deretan babi guling yang terpajang di beberapa rumah.

HARI KE EMPAT Senin 5 April 2010 LRT Abad Santos , DMIA
Ini hari terakhirku di Metro Manila. Hari ini kehidupan kota sudah dimulai secara normal. Libur sudah usai dan saatnya warga kota kembali bekerja. LRT mulai beroperasi. Jangan bandingkan LRT di Metro Manila dengan LRT yang ada di Bangkok, KL apalagi Singapore. Kebersihannya jauh di bawah ke tiga negara tersebut. Gerbongnya pun kelihatan tua dan tidak terawat baik.
Metro Manila memang unik dan tak jauh dengan sisi-sisi dalam kota Jakarta yang padat. Yang membedakan adalah rasa aman. Rasa aman dan nyaman bepergian di Metro Manila lebih besar dari Jakarta. Sopir jeepney dan sopir taxi pun cukup bersahabat. Penduduk lokal juga tidak memperdaya para turis. Dengan biayanya yang sangat terjangkau, tak salah bila kita mencoba mengunjunginya.
Jalan menuju Diosdado Macapagal International Airport (DMIA) terasa kering dan gersang. Penduduknya juga tidak terlihat dari kalangan orang berduit. Rumah–rumah tampak sederhana. Musim kemarau membuat tanah-tanah kosong terlihat gersang.
Informasi di dalam bandara DMIA tidak cukup jelas. DMIA memang masih dalam tahap renovasi. Selamat tinggal Metro Manila.


