Jumat, 17 Desember 2010

MANILA








METRO MANILA



Karena tidak tahu tempat, tidak banyak kendaraan yang beroperasi serta malam yang gelap, pada malam pertama hari pertama, aku berempat makan di warteg setempat. Dengan sedikit kecewa aku memesan makanan yang paling sedikit mengandung daging babi. Makanan yang kulihat tampak berlemak, berbumbu dan banyak mengandung daging. Aku tidak pantang daging babi, tetapi baru kali ini mengenal makanan Filipina, jadi masih dalam taraf coba-coba. Aku memang kurang berani mencoba makanan yang aneh-aneh. Bagiku, makanan harus kelihatan sedap dipandang agar lebih mudah masuk ke perut. Murah…! Mungkin hanya sekitar Rp. 50.000 berempat.





HARI KEDUA - Sabtu 3 April 2010 , Chinatown, Intramuros, Roxas Blv, Misa









CHINATOWN







INTRAMUROS
Intramuros, daerah wisata yang wajib dikunjungi terletak tak jauh dari Chinatown. Kalau buta arah, paling pas naik taxi.

href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhXaQQMkhT2rNe1RIPR3R03pBBxYqy8SgSNpDYoMG8WDMjBPZTKBgI4U693A7eWNhutAFZYRp14gG9kCgkCkG20R3WHNBTYhFo82YCvC4AkVfLDx5DuJ2yCK7Dkq8N9NkWOUOnR-bGtiC0/s1600/100_3129.jpg">



Sebelum meninggalkan Kathedral, aku berjalan-jalan di taman di depannya dan juga melihat bangunan gedung pemerintahan yang berarsitektur jaman kolonial yang terletak di sebelah kanan gereja yang sudah dijadikan atraksi wisata. Sayangnya, aku datang bertepatan dengan hari raya Paskah yang dirayakan oleh sebagian besar masyakat Manila bahkan mungkin Filipina. Gedung ditutup untuk umum.



Kira-kira 5 menit kemudian dengan berjalan kaki, aku sudah tiba di gerbang Intramuros.



Ada Fort Santiago, benteng pertahanan Spanyol yang berlokasi di utara kota bertembok tersebut. Ada Baluartillo De San Francisco Javier yang dijadikan pusat informasi turis. Ada toko museum yang menjual koleksi berkaitan dengan Intramuros seperti barang cenderamata, kipas, barang keramik, pembatas buku dan masih banyak lagi.The Shrine of Our Lady of Guadalupe adalah gereja kecil yang dibangun pada 1773. Rizal Shrine dan Baluarte de Santa Barbara adalah tempat dimana sejarah pahlawan Filipina Dr. Jose Rizal bisa dilihat. Ada jejak langkah kaki tercetak di tanah dimulai dari rumah penahanan sang pahlawan hingga ke tempat eksekusi. Almacenes Reales adalah gudang kerajaan yang digunakan oleh militer pada jaman pendudukan Spanyol, Amerika dan Jepang.




Di ujung Intramuros berbatasan dengan tembok keliling, ada bekas-bekas lubang di bawah tanah , tempat menyekap warga sipil Filipina tanpa diberi makan. Ruangan di bawah tersebut pasti akan sangat menyeramkan bila kita datang di malam hari. Sekarang, lubang-lubang yang masih menganga berukuran kira-kira 4x4 tersebut beserta ditutup dengan palang besi. Aku tak tahu seberapa besar ruangan di dalamnya.



Dari salah satu sisi Intramuros, aku bisa melihat Pasig River, sungai yang membelah Metro Manila. Sebelum keluar dari Intramuros, aku berjalan-jalan di taman yang luas. Taman terbuka ini terletak di tengah-tengah Intramuros dengan bangunan-bangunan tersebut di atas terletak di sebelah kanan-kirinya. Taman ini diatur dengan indah dan kelihatan cukup bersih.









Intramuros memang wajib dikunjungi. Aku bayangkan seandainya bisa memasuki semua tempat-tempat dan ruang di Intramuros, pasti akan ada banyak hal yang menakjubkan. Dalam keadaan tertutup pun, Intramuros, sudah cukup membuat aku terpesona.

Di sebuah sudut jalan, ada semacam tugu untuk memperingati korban perang yang terdiri dari warga sipil. Filipina sungguh tahu menghormati pahlawannya



Pemandangan kontras bisa kusaksikan di sekitar hostel. Hostel hanya berjarak 50 meter dari gerbang kuburan Cina. Di dalam dan di luar gerbang kuburan, pemandangan sangat berbeda. Rumah sederhana semi permanen berderet, terlihat kumuh. Lengkap dengan segala kendaranan dan barang terparkir di depannya. Ini rumah orang hidup, lho…! Sementara kuburan tampil bak rumah real estate yang mahal. Sungguh ironis membandingkan kondisi hunian orang mati dan orang hidup di tempat ini. Anehnya pula, hostel tempat aku menginap, sebuah chateau bertingkat tujuh yang mewah terletak persis di depan pemukiman sederhana ini




ROXAS BOULEVARD

Keluar dari gerbang kuburan, aku memutuskan untuk melihat Roxas Boulevard yang terkenal di Metro Manila.






Pukul 18 aku bersama keluarga bersiap-siap untuk mengikuti Misa malam Paskah di gereja Chinatown. Dalam kegelapan, aku masuk bersama keluarga ke dalam gereja. Heran, belum banyak orang…! Kalau di Tangerang, gereja pasti sudah penuh. Pintu gereja ditutup menyisakan celah beberapa centimeter. Aku menunggu kapan umat segera masuk ke dalam gereja. Hampir 1 jam , aku menunggu, gereja masih sepi juga.




HARI KETIGA - Minggu 4 April 2010 Mall of Asia, Rizal Park, Quezon City

Jalanan sudah mulai ramai. Warga kota sudah mulai beraktifitas.




MALL OF ASIA
Akhirnya, dengan jeepney itu aku memasuki mal yang cukup terkenal di Metro Manila. Wow… kemewahan sangat terasa begitu kita sampai di pelataran mal yang megah ini. Sebenarnya, aku tidak begitu tertarik dengan isi mal, tapi mal pasti punya sesuatu yang unik. Itu aku temukan di salah satu kaunter makanan yang berderet indah di halaman luar. Ada berbagai masakan unik antara lain ayam umur sehari goreng atau balut goreng tepung. Balut adalah makanan khas Filipina berupa telur bebek yang embrionya sudah terbentuk. Aku pernah membelah sebuah balut rebus dan di tengah –tengah putih telur, ada seonggok janin bebek setengah jadi. Ih…serem…!



Aku kurang suka dengan Metro Manila di waktu malam. Dimana-mana gelap. Quezon City yang kulewati juga menampilkan daerah sederhana. Hampir tidak ada bangunan baru yang megah. Tidak ada yang istimewa dari daerah ini kecuali deretan babi guling yang terpajang di beberapa rumah.



HARI KE EMPAT Senin 5 April 2010 LRT Abad Santos , DMIA

Ini hari terakhirku di Metro Manila. Hari ini kehidupan kota sudah dimulai secara normal. Libur sudah usai dan saatnya warga kota kembali bekerja. LRT mulai beroperasi. Jangan bandingkan LRT di Metro Manila dengan LRT yang ada di Bangkok, KL apalagi Singapore. Kebersihannya jauh di bawah ke tiga negara tersebut. Gerbongnya pun kelihatan tua dan tidak terawat baik.

Metro Manila memang unik dan tak jauh dengan sisi-sisi dalam kota Jakarta yang padat. Yang membedakan adalah rasa aman. Rasa aman dan nyaman bepergian di Metro Manila lebih besar dari Jakarta. Sopir jeepney dan sopir taxi pun cukup bersahabat. Penduduk lokal juga tidak memperdaya para turis. Dengan biayanya yang sangat terjangkau, tak salah bila kita mencoba mengunjunginya.

Jalan menuju Diosdado Macapagal International Airport (DMIA) terasa kering dan gersang. Penduduknya juga tidak terlihat dari kalangan orang berduit. Rumah–rumah tampak sederhana. Musim kemarau membuat tanah-tanah kosong terlihat gersang.
Informasi di dalam bandara DMIA tidak cukup jelas. DMIA memang masih dalam tahap renovasi. Selamat tinggal Metro Manila.

Niagara Falls











Menyaksikan air terjun terlebar sedunia memang kesempatan yang luar biasa.
Niagara Falls terletak di dua negara, USA dan Canada.

Pada malam hari kami dibawa menyaksikan air terjun dari sisi Canada. Pemandangan jadi spektakuler karena warna air berubah-ubah, dari biru, kuning, merah muda dll.
Aku pikir 'ajaib benar'. Tapi setelah kuamati lebih lanjut, rupanya air terjun itu disorot dengan lampu berdaya luar biasa besar dari salah satu gedung tinggi di seberang.

Cuaca malam hari cukup dingin ditambah angin yang menerbangkan air hingga ke daratan.
'Brrrr....'dinginnya. Jaket tebal plus sarung tangan dipakai.
Selesai menikmati air terjun, kami diajak berjalan menuju pusat keramaian di daerah wisata itu. Sayang , waktu yang diberikan hanya sedikit. Inilah resiko mengikuti tour. Pengaturan waktu sangat ketat dan singkat sehingga seperti membaca buku secara kilat. Hanya tahu poin-poin pentingnya saja. Tidak tahu detil-detilnya.
Padahal tempat itu sangat menarik. Ada patung lilin Johnny Depp dalam kostum bajak lautnya. Angelina Jollie dengan kostum Tomb Raider. Ada banyak lagi tokoh-tokoh film yang bisa dilihat di situ. Sekali lagi, kami tidak diberi kesempatan menikmati itu satu persatu. Mau ke sana lagi, kok sayang duitnya... Masih ada belahan dunia lain yang belum aku kunjungi.

Kamis, 09 Desember 2010

Boston








Boston memang jauh berbeda dibandingkan New York.
New York benar-benar kota bisnis. Seluruh kota didominasi oleh gedung-gedung pencakar langit dan tempat usaha. Philadelphia sebaliknya. Terlihat begitu sepi.
Boston mungkin paling pas. Kotanya begitu manusiawi. Masih banyak anak-anak yang bersepeda di tepi jalan. Ada kehidupan yang lebih santai seusai jam kerja. Masih banyak perkampungan 'landed house'. Tak heran, Boston menjadi salah satu kota favorit.




Chinatown di Boston juga biasa saja. Tidak sebesar New York. Hanya beberapa jalan dengan rumah makan dan warung keluarga.
Aku sempat makan di sebuah warung. Seperti biasa, rumah makan kecil, pemilik, pekerja dan pelayan dirangkap oleh satu keluarga. Suasananya juga seperti rumah makan di Indonesia.

Rabu, 08 Desember 2010

Chinatown - New York






Aku paling merasa suka tinggal di chinatown.
Ini karena daerah itu biasanya berlokasi di pusat kota, ramai, kemana-mana gampang dan menyediakan segala hal yang kita butuhkan. Semua serba mudah!

Begitu melihat peta NYC, wow... ternyata chinatown mempunyai posisi yang paling strategis di dunia ini. Bayangkan, sudah terletak di New York -kota terbesar di negara adikuasa, di Manhattan , plus downtown lagi. Mana ada lokasi yang lebih super dari ini. Thanks God aku bisa di situ meski cuma setengah hari.

Perjalanan menuju Chinatown NYC kali ini benar arahnya.
Pada kesempatan pertama seminggu sebelumnya, aku turun di tempat yang salah. Setelah pulang ke hotel, aku buka peta.... Oh, seharusnya aku jalan ke arah timur...! Maka pada perjalanan kali ini, aku tak mau salah tempat lagi. Dengan berpegang pada peta hasil print out dan kompas, akhirnya, tiba juga aku di 'the real chinatown'. Dari airport hotel, dengan shuttle gratis aku menuju JFK airport di Federal Circle. Berganti dengan Airtrain, turun di Jamaica Station. Setelah itu, naik subway. Kali ini aku teliti betul subway yang harus kunaiki dan dimana aku harus turun. Nah, akhirnya sampai juga ke sana. Ada Mott Street, Bowery Street, dsb...!

Jalan dan toko di situ benar-benar khas cina. Tokonya berupa ruko, besar dan kecil. Tidak membuat orang enggan masuk karena harga barangnya terjangkau. Barang yang dijual pun serupa barang yang di Jakarta. Penjaga juga berpakaian khas cina, informal. Pedagang kaki lima juga ada. Cara berdagangnya pun serupa dengan yang di Glodok. Warung makan/restoran tak berbeda dengan yang ada di Tangerang.
Yah, benar-benar serasa di negeri sendiri.

Di toko sayur, aku mulai membandingkan harga. Ternyata, harga sayur setelah USD dikonversi ke rupiah, kadang-kadang sedikit mahal atau hanya 50% lebih mahal. Sama seperti waktu aku tinggal di Australia dulu. Biaya makan kalau memasak sendiri tidak terlalu berbeda dengan harga di Serpong.

Hampir 4 jam aku berjalan mengitari seluruh chinatown dan Little Italy yang berdampingan letaknya. Menyaksikan pedagang kaki lima yang gigih menjajakan dagangan. Berbicara dengan penduduk lokal yang ternyata tidak bisa berbahasa Inggris. Beristirahat di taman yang dipenuhi orang-orang asia lanjut usia yang lagi ngobrol dengan teman-temannya.

Oh ya, ada juga toko Indonesia. Tapi 2 toko yang menuliskan Indonesia, ternyata juga mencantumkan nama Thailand. Bisa jadi penmiliknya memang dari 2 negara atau karena produk Indonesia sama dengan produk Thailand. Jadi apa salahnya mencantumkan kata Thailand? Bukankah nama Thailand lebih beken dari Indonesia?

Kunjungan ditutup dengan makan di warung pojok sebelum melanjutkan perjalanan ke Central Park.

Jumat, 03 Desember 2010

Janjiku di 2010


Di akhir tahun 2009 lalu, ada beberapa hal yang ingin kulakukan, misalnya dalam hal finansial , spiritual dan karya.

Di awal tahun sampai pertengahan 2010, aku semangat untuk mengejar target yang aku pasang. Untuk finansial, misalnya, boleh dibilang aku berhasil memenuhi target yang kutetapkan, meski sebetulnya bukan hal seperti itu yang kumau.

Untuk hal spiritual, ada yang tercapai, ada yang tidak. Tapi, aku jujur katakan, perkembangan rohaniku tahun ini kurang bagus. Ada yang tidak kulakukan karena rasa malas. Tahun depan aku harus memperbaikinya melalui kegiatan yang terjadwal.

Sedangkan untuk karya berupa tulisan, apa yang kurencanakan tidak terjadi. Cerita tentang perjalanan belum sempat dibukukan. Karya sudah ditulis tapi belum sempat disempurnakan. Yah, kesibukan pula yang menggagalkan semua ini. Tapi, aku tidak berkecil. Justru yang terjadi adalah banyak perjalanan yang kulakukan. Ini lebih baik dari sekedar tulisan.

Manusia memang boleh dan harus berencana. Tetapi Tuhanlah yang menentukan. Dan jangan menyesali bila yang kita rencanakan tidak terjadi. Malahan yang terjadi hal lain yang tidak terpikirkan sebelumnya. Hal itu terjadi pula padaku. Perkembangan keadaan membuat aku malah mengerjakan hal lain. Tidak masalah. Tuhan sudah mengarahkan aku untuk melakukan sesuatu yang lebih baik.

Sehingga tahun 2010 ini adalah tahun yang luar biasa bagiku. Tahun yang sibuk. Tahun yang penuh kerja keras dan tantangan . Tahun yang indah dan tahun yang penuh berkat.

Tak lama lagi, kita kan menginjak tahun 2011. Akan seperti apakah tahun mendatang?
Aku belum membuat resolusi 2011. Mungkin masih melakukan hal yang sama yang belum kukerjakan dengan baik di 2010, terutama dalam hal spiritual.

Kita lihat saja...!