Aku paling merasa suka tinggal di chinatown.
Ini karena daerah itu biasanya berlokasi di pusat kota, ramai, kemana-mana gampang dan menyediakan segala hal yang kita butuhkan. Semua serba mudah!
Begitu melihat peta NYC, wow... ternyata chinatown mempunyai posisi yang paling strategis di dunia ini. Bayangkan, sudah terletak di New York -kota terbesar di negara adikuasa, di Manhattan , plus downtown lagi. Mana ada lokasi yang lebih super dari ini. Thanks God aku bisa di situ meski cuma setengah hari.
Perjalanan menuju Chinatown NYC kali ini benar arahnya.
Pada kesempatan pertama seminggu sebelumnya, aku turun di tempat yang salah. Setelah pulang ke hotel, aku buka peta.... Oh, seharusnya aku jalan ke arah timur...! Maka pada perjalanan kali ini, aku tak mau salah tempat lagi. Dengan berpegang pada peta hasil print out dan kompas, akhirnya, tiba juga aku di 'the real chinatown'. Dari airport hotel, dengan shuttle gratis aku menuju JFK airport di Federal Circle. Berganti dengan Airtrain, turun di Jamaica Station. Setelah itu, naik subway. Kali ini aku teliti betul subway yang harus kunaiki dan dimana aku harus turun. Nah, akhirnya sampai juga ke sana. Ada Mott Street, Bowery Street, dsb...!
Jalan dan toko di situ benar-benar khas cina. Tokonya berupa ruko, besar dan kecil. Tidak membuat orang enggan masuk karena harga barangnya terjangkau. Barang yang dijual pun serupa barang yang di Jakarta. Penjaga juga berpakaian khas cina, informal. Pedagang kaki lima juga ada. Cara berdagangnya pun serupa dengan yang di Glodok. Warung makan/restoran tak berbeda dengan yang ada di Tangerang.
Yah, benar-benar serasa di negeri sendiri.
Di toko sayur, aku mulai membandingkan harga. Ternyata, harga sayur setelah USD dikonversi ke rupiah, kadang-kadang sedikit mahal atau hanya 50% lebih mahal. Sama seperti waktu aku tinggal di Australia dulu. Biaya makan kalau memasak sendiri tidak terlalu berbeda dengan harga di Serpong.
Hampir 4 jam aku berjalan mengitari seluruh chinatown dan Little Italy yang berdampingan letaknya. Menyaksikan pedagang kaki lima yang gigih menjajakan dagangan. Berbicara dengan penduduk lokal yang ternyata tidak bisa berbahasa Inggris. Beristirahat di taman yang dipenuhi orang-orang asia lanjut usia yang lagi ngobrol dengan teman-temannya.
Oh ya, ada juga toko Indonesia. Tapi 2 toko yang menuliskan Indonesia, ternyata juga mencantumkan nama Thailand. Bisa jadi penmiliknya memang dari 2 negara atau karena produk Indonesia sama dengan produk Thailand. Jadi apa salahnya mencantumkan kata Thailand? Bukankah nama Thailand lebih beken dari Indonesia?
Kunjungan ditutup dengan makan di warung pojok sebelum melanjutkan perjalanan ke Central Park.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar