Sabtu, 21 September 2013
Sabtu, 09 Maret 2013
China Selatan
H1. Kamis 28 Februari 2013 - Singapore
Akhirnya kutemukan tempat duduk yang nyaman utk membaringkan badan dan menyandarkan kepala di Changi Airport. Waktu tiba di Changi pk 22.30 malam dan waktu terbang berikutnya pada pk 06.00 pagi membuatku terpaksa tidur di bandara. Ini adalah sebuah pengalaman yang berbeda. Terasa sebagai suatu hal yg menantang. Sambil menanti pesawat berikutnya, bisa kusaksikan berbagai tingkah polah penumpang yang bernasip sama sepertiku. Ada yang bisa tidur dengan pulas, ada pula yang jalan ke sana kemari.
Bandara Changi sungguh memanjakan penumpang. Ada banyak fasilitas gratis tersedia, seperti kursi, ruang tunggu, air panas, kantin , semua dalam jumlah yang cukup bahkan berlebih bagi para penumpang yang terpaksa menginap di bandara.
Kebun Kaktus di Changi Airport
H2. Jumat 1 Maret 2013 - Guangzhou
Tepat setahun aku kembali lagi ke negara China. Tahun lalu aku mengunjungi Beijing, Nanjing, Shanghai, Suzhou dan Hangzhou di sebelah timur laut. Kali ini ke China Selatan.
Sesuai jadwal, penerbangan berlanjut menuju Guangzhou, China. Perjalanan mulus. Dan dari bandara menuju hotel, kami cukup memanfaatkan jasa subway dan dalam 1 jam setelah mencari-cari, kutemukan hotel yang sudah kupesan sebelumnya. Papan nama yang tersembunyi dan daun-daun pohon yg menutupinya membuatku mondar-mandir untuk menemukannya. Oh ya, jangan lupa menuliskan bahasa Mandarin untuk nama hotel agar memudahkan mencarinya. Sebab hampir 100 persen orang yang kutanya, mereka tak mengenal aksara Latin dan bahasa Inggris. Benar-benar mati kutu aku di China.
Pesawat yang mendarat 1jam lebih lambat, pengambilan bagasi serta perjalanan dgn subway membuatku tiba di hotel sekitar pk 14.00. Hotel *2 ini cukup bersih. 1 hal yang tak kusuka adalah kamar mandi/toiletnya berpintu kaca bening, yang tak berpintu dan hanya diberi tirai yang tak cukup panjang untuk menutupi saat kita beraktifitas di dalamnya. Sementara, cermin bisa memantulkan bayangan orang di dalamnya. Wuih... terpaksa teman sekamar harus keluar saat yang lain mandi.
Makan siang di restoran yang semua menunya beraksara China. Petugasnya tak bisa berbahasa Inggris dan aku tak bisa berbahasa China, sementara rekan perjalanan malu bertanya. Alhasil, aku hanya makan nasi goreng, sementara tamu lain kusaksikan menikmati makanan yang lebih bervariasi. Duh, kesalnya...!
Setelah istirahat, perjalanan dilanjutkan ke Pearl River dan Beijing Road yg terkenal dengan keramaian malamnya. Dibandingkan Hongkong, tepi Pearl River tak sewarna-warni Avenue of the Stars -Hongkong, oleh karenanya aku urung utk mengikuti 'river cruise'. Apalagi harganya juga lumayan , CNY 150-an. Sebenarnya ini harga yang wajar, sebab di Ho Chi Minh City, harga dinner cruise juga USD 20.
Dari situ, aku menyusuri jalan yang lumayan sepi sampai akhirnya tiba di keramaian Beijing Road. Beijing Road mirip dengan MyeongDong di Seoul, penuh dengan outlet barang bermerk. Sepanjang jalan penuh dengan hiasan lampion merah. 1 hal yang ingin kulihat di Beijing Road adalah jalan kuno yg ditemukan di bawah pedestrian pertokoan ini. Dan sisa jalan tersebut ditampilkan dengan ditutupi kaca tembus pandang. Sungguh menakjubkan... Jalan yang sudah berusia ratusan tahun masih bisa terlihat utuh dan kokoh. Jalan terbuat dari batu keras yg disusun tanpa mesin. Kebudayaan China memang patut diacungi jempol.
Jalan yang sudah berusia ratusan tahun yang ditemukan di bawah pedestrian Beijing Road
Aku pulang ke hotel tanpa berbelanja, hanya membeli water chestnut yg menyehatkan tapi jarang kutemui di Tangerang.
H3. Sabtu 2 Maret 2013 - Guangzhou
Kelelahan membuatku bangun kesiangan dan pk 9 aku sudah berjalan menuju Sun Yat Sen Memorial Hall, 500 m jaraknya dari hotel. Tak ada yang menarik di sini (mungkin karena aku tak mengerti makna tulisannya) kecuali bangunan yang kokoh dan taman dengan bunga warna-warni yang teratur rapi.
Selanjutnya, tujuan berikutnya adalah Yuexiu Park. Begitu tiba di gerbang selatan, aku berhadapan dengan puluhan tangga naik untuk memasuki taman. Tiada jalan lain, harus masuk ke tempat ini. Dengan sedikit berkecil hati karena kondisi kakiku yang lemah dan sakit, aku menapaki anak tangga 1 per 1 dengan susah payah. 30 anak tangga berhasil kulalui, 30 anak tangga berikutnya menanti dan terus , terus, tak terasa ini membawaku ke salah 1 puncak dari beberapa puncak di area Yuexiu Park.. Di Puncak ini kutemukan 1 monumen dan replika tembok kota lama Guangzhou. 1 puncak berhasil kudaki. Horee....!
Dari situ, aku menuju puncak berikutnya, dimana Zenhai Tower berada. Zenhai Tower berisikan museum yang berisi sebagaimana layaknya museum. 1 hal yg menarik di museum ini adalah jam air, yg terdiri dari 4 drum yang disusun dengan ketinggian berbeda. Air dari drum teratas mengalir perlahan menuju drum di tengah, dan dari drum di tengah menuju ke drum terbawah, dimana di situ terpasang semacam penggaris pengukur yg menunjukkan waktu. Teknologi sederhana yang hebat.
Maket di museum menunjukkan bahwa Yuexiu Park memiliki beberapa puncak, dimana di setiap puncak terdapat 1 tempat menarik. Wah, kalau aku tahu sebelumnya, aku tentu tak berani ke Yuexiu Park. Kakiku sakit...!
Sudah kepalang tanggung, kaki sudah sakit tetapi masih ada 1 puncak dengan lebih dari 100 anak tangga yg harus kudaki menuju patung 5 kambing yg merupakan 'landmark' Guangzhou. Naik atau tidak ? Naiklah... demi memuaskan rasa penasaran melihat patung kambing yang terlihat dari anak tangga yg paling bawah. Oh, beginilah maskot Guangzhou yang merupakan replika raksasa dari patung aslinya yg tingginya tak lebih dari 1 meter yang disimpan di Zenhai Museum.
Keluar dari gerbang barat Yuexiu Park, aku mencari-cari musoleum raja Nanyue. Lagi-lagi rekan perjalananku malu bertanya, aku yang tak bisa berbahasa Cina plus orang Cina yg seakan-akan enggan menjawab dan berbicara dengan nada yang tidak ramah membuatku selalu kesulitan menemukan suatu tempat.
Setelah salah jalan, akhirnya kutemukan musoleum tersebut. Aku sungguh tidak menduga bisa masuk dan menginjak sendiri kubur raja masa lalu. Di dalam tanah yang berisikan ruang-ruang bersekat dinding batu, di situ ditunjukkan ruang tempat jenazah raja disemayamkan, di ruang sebelahnya terdapat peti kaca berisikan sisa tubuh selirnya. Aku langsung teringat piramid di Mesir yg hanya pernah kulihat dalam film 3D. Seperti inikah bagian dalam piramid ? Kalau sang raja Nanyue diperkirakan mati di usia 40-45 thn, lalu kapan selir itu mati ? Kenapa hanya dia yang dikuburkan di tempat yang sama ? Kenapa raja mati di usia yang muda ? Rupanya adalah hal yang wajar bahwa raja jaman dahulu mati di usia segitu karena kehidupan seksualnya yang terlalu berlebihan. Pantas…!
Di bagian lain dari museum, dipamerkan berbagai benda peninggalan kerajaan tersebut. Hal yg menarik di museum ini bagaimana ditunjukkan cara penguburan raja yang diberi pakaian terbuat dari batu giok 'jade' berbentuk kotak-kotak kecil dan dirangkai dengan benang perak. Jenazah yg sudah berbalutkan jade itu di dalam peti masih dialasi dgn piringan jade yang disusun teratur di atas, di bawah dan di samping kanan kiri tubuhnya. Setelah itu, peti juga dipaku dengan jade, baru diletakkan di ruangan bawah tanah. Aku bertanya_tanya utk apakah fisik yang sudah mati diperlakukan secara mewah dan berlebihan ? Bukankah itu tidak akan menghidupkannya ?
Tujuan terakhir sebelum meninggalkan Guangzhou adalah Chen Clan Academy, yang merupakan rumah peninggalan marga Chen. Rumah ini mengingatkanku pada sekolahku semasa SMU di SMA Kebon Dalem Semarang. Gedung sekolahku juga merupakan rumah kapitan China. Chen Clan Academy luas dan indah. Dengan lebar hampir 100 m dan panjang lebih dari 50m, gedung batu itu terbagi 3 bagian, kiri dan kanan yang berupa kamar dan tengah berupa ruang terbuka. Bagian kiri dan kanan pun terbagi atas beberapa ruang. Sementara di ruang terbuka, diantaranya dibuat ruangan tertutup yang menghubungkan bangunan kiri dan kanan. Ini mengingatkanku akan 'Forbidden City', dimana begitu masuk ke gerbang, kita akan menemukan ruang terbuka luas yang mengarah ke suatu gerbang lain menuju ke ruang terbuka lain.
Saatnya menuju Guangzhou Railway Station, tempat kereta api bertolak menuju Guilin. Aku memilih 'hardsleeper' karena perjalanan malam dan diperkirakan tiba pk 6.30 pagi. Suasana di kereta padat tetapi tertib. Kebetulan mayoritas isi gerbong adalah anak muda yg kuduga adalah mahasiswa. Dinginnya udara dan capeknya badan membuatku tertidur lelap namun tetap waspada menjaga tas di belakang kepala.
H4. Minggu 3 Maret 2013 - Guilin
Kami mendapatkan hostel di seberang stasiun kereta. CNY 90 utk kamar privat dgn kamar mandi dalam. Kamar bersih tapi tua. Hostel berlokasi di seberang stasiun kereta, di bangunan tua dan terletak di lantai 3. Jalan menuju hostel kumuh tetapi aman dan sekitarnya penuh hostel, kantor travel agent dan warung makan. Aku sedikit 'shocked' dengan kondisi hotel, tetapi melihat keadaan di dalamnya, yah kami putuskan untuk menginap di situ. Kami mengambil paket tour Li River dgn bamboo boat seharga CNY 150 per orang yang ditawarkan hostel.
Bus membawa kami melalui jalan antar kota yg tak terawat hingga ke Yongdie Pier. Di situ telah menanti bamboo boat yg sebetulnya kapal bermesin yang terbuat dari plastik fiber berbentuk bambu. Kapal ini membawa peserta tour mengarungi Sungai Li yang terkenal keindahannya, dgn ratusan bukit di kanan kirinya membuat Guilin terkenal seantero jagat. Sungai yang bersih dan tak terlalu dalam serta lahan hijau di kanan kiri membuat peserta tak henti-henti mengagumi keindahan sepanjang sungai Li. Perpaduan sungai yang jernih, bukit berbagai bentuk, lahan hijau dan kapal tradisional membuat perjalanan meninggalkan kesan yang dalam. Ternyata tour berakhir di sini. Lalu bagaimana aku pulang ke Guilin ?
Ini dia jebakannya... Usai dgn acara ini, peserta ditawari utk mengikuti tour tambahan, tentunya dgn biaya tambahan pula, CNY 150 lagi. Mau tak mau, aku ikut. Karena kalau tidak ikut, bagaimana aku bisa kembali ke Guilin, sementara mau kembali sendiri ke Guilin dengan transportasi umum bisa dipastikan komunikasi akan macet total ?
Hitung-hitung ini tour yg mahal, CNY 300 atau setara Rp. 450.000 lebih untuk tour dari pk 10-17.30. Cara yg cerdik dlm marketing. Tour tambahan ini membawa peserta ke 'dragon village' sebuah desa tua penuh rumah tua dari bata coklat, dimana terdapat sebuah jembatan batu berusia 680 tahun, anak sungai Li yg tak terkena polusi dan sebuah lapangan luas dengan beberapa kerbau beserta gembalanya. Jembatan batu dengan latar belakang rangkaian bukit batu menurut penuturan tour guide telah dijadikan gambar layar Microsoft. Entah benar atau tidak, mari kita buktikan.
Rakit bambu yang didayung secara manual membawa 2-3 peserta tour mengarungi sungai yang jernih yang kedalamnya antara 75 cm - 2meter menurut perkiraanku.
Kami disuguhi atraksi menangkap ikan secara tradisional dgn menggunakan sejenis burung laut. Burung diikat tali panjang yg ditalikan ke perahu dan lehernya diikat sedemikian rupa sehingga tidak dapat meregang lebar utk menelan seekor ikan. Burung kemudian dilepaskan ke sungai. Secara naluri, burung akan menyambar ikan di dalam air dan menelannya. Namun karena lehernya yang 'sempit', ikan tidak pernah bisa masuk ke tenggorokannya. Jadilah ikan itu menyumbat tenggorokannya. Tentu sang burung berusaha mencari pertolongan dengan menghampiri pemiliknya. Sang pemilik dengan gesit menarik tali pengikat burung, memegang leher burung dan mengeluarkan ikan dari mulutnya serta memasukkannya ke dalam ember. Demikian berulang-ulang burung menangkap ikan dan berulang pula pemilik memanen ikannya. Cara sederhana yang cerdik. Dengan 4 ekor burung, tak pelak lagi dengan cepat ember terisi penuh ikan. Dikatakan perlu waktu 3 thn untuk melatih burung-burung tersebut agar mampu mencari ikan dengan cara ini.
Rakit bambu melanjutkan perjalanannya, berhenti di padang rumput dengan beberapa ekor kerbau utk foto session. Pemandangan sungguh indah.
Selanjutnya rakit membawa peserta tour menikmati pemandangan sekitar yang serupa dengan pemandangan di sungai utama. Hingga sampai suatu tempat yang sengaja dibendung, rakit diarahkan ke sebuah tempat utk terjun menuruni bendungan.. Sensasi yang menyenangkan. Byurrrrr... Rakit terjun setelah melompati bendungan, air muncrat ke atas mengenai peserta tour dan rakit berhenti di satu pondok yang berisi peralatan pencetak foto. Rupanya ini salah satu trik utk mencari uang. Saat rakit terjun, tukang foto profesional mulai beraksi. Sampai di pondok, peserta langsung ditawari utk memilih foto yang sudah diambil. Harga per lembar CNY 15. Mau tak diambil, sayang karena momen pengambilan sangat pas. Akhirnya kupilih foto yang paling baik, yakni saat air muncrat ke atas. Rupanya tempat ini adalah tempat terakhir. Rakit harus kembali ke tempat awal berangkat. Bagaimana menaiki bendungan ? Penumpang turun, rakit diangkat oleh si pendayung rakit. Oh, begitu caranya...
Kami melewati Bukit Singa dan Bukit Kodok.
Sebelum kembali menuju Guilin, kami menunggu di rumah penduduk yang menjual makan siang ala kadarnya, nasi atau mie goreng. Itu saja menu yg bisa dipilih.
Daerah ini adalah kota lama yang penuh dengan bangunan sederhana zaman Mao Tse Tung, mungkin. Rumah berbata coklat sederhana ,tapi ada juga rumah yang lebih baru.
Wah, kebelet pipis.. Aku jadi ingat buku 'shocking China' tentang WC di China yang berupa parit dgn penutup setinggi 1 meter yang pernah kujumpai di Shanghai. Hanya ada 1 WC umum tersedia , 'the local 5 star toilet'. Mau tak mau...aku memilih tempat terpojok. Waktu masuk ke bangunan putih, wah terasa bersih. Tak ada bau pesing dan WC kering. Di dalam ruangan terdapat 4 WC dengan pintu setinggi 1 meter. Aku memilih WC yang pojok supaya pada saat orang membuka pintu, aku tidak langsung terlihat. Rupanya aku salah pilih. Toilet kotor, ada bekas orang BAB yang tak disiram karena tak ada air. Begitu air kencingku mengenai tinja mengering, wow.. Bau naik ke atas membuat aku menahan napas dan menutup hidung erat-erat. Pengalaman yang tak menyenangkan. Aku heran air sungai tak jauh dari situ, kenapa tak dibuatkan saluran menuju WC. Dasar jorok...!
Perjalanan berakhir dan aku berhenti di stasiun utk membeli tiket kereta api siang ke Nanning. Krn siang, aku memilih tempat duduk biasa dengan harapan bisa menikmati pemandangan dari jendela. Sebelum pulang, aku membeli roti canai dari penjual Cina Muslim dan makan bihun kuah karena kedinginan. Maklum, salah tebak cuaca dan salah kostum. Di luar dugaan, hari itu cuaca di Guilin di bawah 10 derajat Celcius, sementara aku tidak membawa mantel hangat. Akhirnya, krn dingin dan kecapekan, aku urung ke pasar malam. Sebelumnya, aku berjuang utk berani mandi dan kramas, sebab mandi dan tukar baju terakhir adalah pagi hari sebelumnya. Dingin...! Aku tidur dengan kasur berpemanas... Nikmatnya tidur sampai pagi.
H5. Senin 4 Maret 2013 - Guilin
Aku bangun dengan muka perih akibat cuaca dingin. Tujuan kali ini ke Elephant Trunk Hill dengan bus. Tujuan sebenarnya ke Ming Palace tetapi aku salah turun dan tiba di tepi sungai Li. Jadi, perjalanan dialihkan ke tepi sungai. Tak diduga, setelah berjalan beberapa waktu, kami menemukan taman dengan 2 pagoda di seberang jalan. Rupanya itu ada The Sun and the Moon Pagoda. Kami berjalan mengelilingi danau buatan tempat pagoda itu berada dan jalan tersebut mengarah ke jalan utama kota. Ada beberapa penyewaan pakaian tradisional untuk berfoto. Akhirnya, kami keluar dan tiba di kawasan bisnis. Yah, shopping time! Setelah membeli 1 jaket (agar tak kedinginan lagi), kami kembali ke hostel utk checkout.
Stasiun Nanning jauh lebih kecil dr stasiun Guangzhou. Tepat pada waktunya, kami disuruh masuk ke kereta. Benar_benar kereta rakyat. Kereta api jaman baheula, tetapi cukup terawat dan bersih. Kereta berlantai 2. Dan aku mendapat tempat duduk dekat jendela. Kereta benar2 padat dgn manusia dan barang. Sulit utk meluruskan kaki krn di bawah kakiku ada koper besar. Kapok... ! Sementara beberapa ibu setengah baya sibuk berbicara keras-keras satu sama lain. Pemuda di belakang tempat dudukku tak henti bertelepon dengan dialek daerahnya. Mereka sungguh menikmati perjalanan ini. Kereta yang sering kali berhenti mengalah dengan kereta lain makin menambah penderitaanku. Kapan sampai ? Baru 2 jam, masih 4 jam lagi.. Pemandangan sepanjang jalan berupa tanah pertanian, perkebunan dengan sedikit rumah penduduk di sebelah kanan jalan. Di sebelah kiri jalan, pemandangan didominasi oleh tempat pengolahan produk pertanian dan rumah penduduk. Sepertinya semua lahan digarap, kebun atau sawah terawat, tak ada tanah kosong dan dibiarkan terbengkelai. Hebat...! Ada juga kolam, sungai..semuanya jernih, tak bersampah.
Ada kejadian yang lazim berlaku di sini. Saat kereta berhenti di stasiun besar utk menaik-turunkan penumpang, sebagian penumpang turun untuk membeli makanan dan minuman. Mereka naik kembali dengan mie dan ayam goreng di mangkok kertas. Bersamaan itu naik pula beberapa pedagang asongan menjajakan gasing elektronik, power bank, lap kanebo, sikat gigi, kaos kaki secara bergiliran. Sayang, aku tak mengerti apa yang mereka katakan. Kereta terlambat tiba.. Hitung hitung sdh sejak pk 14 aku di dalam kereta dan akhirnya tiba pk 20.50. 7 jam perjalanan yang menyiksa. Untungnya tak ada kejorokan terjadi di sekitarku, sehingga ini bukan masalah besar.
Hostel dengan mudah dicapai dengan bus kota. Untuk menuju hostel, kami melewati 'pedestrian walk' yg penuh dgn outlet barang bermerk lokal maupun impor.
Untuk makan malam, kami pergi ke area pusat jajan. Aku memilih sesuatu yang belum pernah kumakan sebelumnya. Terong dan kucai bakar plus 1 tusuk sate ayam jumbo. Sepertinya bumbu ke 3 makanan berbeda ini sama. Kami duduk di bangku plastik bulat yang rendah menghadap meja yang rendah pula. Rupanya, inilah cara orang makan dan nongkrong di malam hari bagi penduduk lokal.
H6. Selasa 5 Maret 2013 - Nanning
Hari ini pagi-pagi aku ke terminal bus mencari tiket besok malam utk ke haikou. CNY 300 per-orang. Unbelievable.. Mahalnya. Terpaksa kubeli karena tiket penerbangan ke Jkt dari sana. Selesai urusan tiket, dgn bus menuju Qing Xiu Shan, suatu resort di pegunungan. Salah ambil bus, maka agar cepat berganti taxi. Tak mahal dan tak menipu, itu yang penting. Dengan CNY 13, taxi mengantarku ke gerbang resort. Tiket masuk CNY 20 sepadan dgn luasnya resort.
Tak jauh dari gerbang, berdiri sejumlah patung etnis minoritas, berpasangan pria dan wanita dengan pakaian daerah dan kebudayaan khas masing-masing. Sayang, semua info dalam tulisan China.
Karena yakin tak bakal mampu berjalan kaki mengitari resort, aku memilih naik mobil khusus. CNY 5 sekali jalan. Aku naik sampai ke perhentian terakhir. Tiba di taman yang pohonnya digantungi dengan banyak pita bertulisan. Entah apa maknanya.
Keluar dari taman, aku berjalan menuruni gunung menuju ke sebuah tempat sembahyang. Ada tiruan 'Temple of Heaven' seperti yang ada di Beijing. Ada pula sejumlah bangunan tempat berdoa.
Keluar dari tempat ini, aku memutuskan untuk pulang ke hotel. Naik mobil lagi CNY 5 ke arah gerbang masuk. Masih banyak tujuan lain masih perlu jalan kaki lagi. Aku sudah capek. Yah.. Terpaksa beberapa spot aku lewatkan. Badan sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Dengan bus no 10, aku kembali ke hostel. Langsung istirahat sampai pagi. Niat untuk makan malam di pusat jajan malam hari sebelumnya batal karena udara dingin yang kurang bersahabat untuk tubuh yang terbiasa di wilayah tropis.
H7. Rabu 6 Maret 2013 - Nanning
Jam 8 lewat kami sudah bersiap menuju Nanhu Lake Park atau South Lake Park. Bus no 8 dengan tiket seharga CNY 1 membawa kami sampai ke depan pintu masuk danau. Danau yang berlatar pencakar langit membentang di tengah kota. Nanhu Lake menyediakan ruang terbuka luas untuk warga kota. Banyak warga secara berkelompok berolahraga ala China. Ada yang menggabungkan gerakan tari dan senam dengan kipas. Pesertanya para lansia dan pelatihnya perempuan muda. Para kakek nenek berusaha mengikuti gerakan ala kungfu yang menggunakan kipas diiringi musik dari sebuah tape recorder kecil. Di tempat lain, seorang perempuan paruh baya berlatih kungfu sendirian. Di tempat lain lagi, beberapa kelompok warga juga berlatih gerakan kungfu untuk kesehatan.
Makan siang di rumah makan Muslim China. Makanan di sini kurang berlemak dibanding makanan China yang umumnya dari daging babi dengan aneka kecap. Penampilan orang Muslim China sedikit beda dengan orang Han. Biasanya yang pria memakai 'kupluk' putih dan yang wanita berjilbab. Tak banyak sayur daun disajikan di sini. Biasanya mereka menjual mie. Sungguh piawai mereka dalam mengubah seonggok tepung menjadi mie yang halus hanya dalam hitungan menit.
Guangxi Museum of Art dan Guangxi Relics Centre adalah kunjungan berikutnya. Di Guangxi museum aku menyaksikan kehebatan kebudayaan China yang sudah terekam sejak abad ke 2 SM dalam bentuk keramik. Film tentang keindahan alam Guangxi diputar terus menerus di lobby utama gedung.
Adapun di belakang gedung, terhampar lahan terbuka. Kita bisa melihat budaya etnis minoritas melalui foto-foto dan beberapa rumah/panggung adat dalam ukuran sebenarnya. Rumah adat suku Zhuang adalah rumah adat bertingkat 3. Tingkat 1 atau terbawah digunakan untuk menyimpan alat-alat pertanian, tingkat ke 2 adalah ruang keluarga dan kamar tidur. Sedangkan tingkat ke 3 dijadikan utk tempat menyimpan hasil pertanian. Panggung adat adalah sebuah bangunan berbentuk rumah dengan panggung di bagian depan. Di sinilah warga berkumpul untuk merayakan peristiwa adat.
Rumah adat suku Zhuang
Rumah adat Miao yang terletak di atas air tampak indah dengan posisinya yang dibangun melebar.
Rumah ada suku Miao
Ada juga bangunan suku Dong yang ke-khas-annya terletak pada atap rumah yang menjulang tinggi, terdiri dari beberapa susunan kayu yang terlihat sangat menarik.
Ditampilkan pula suatu bangunan yang menggambarkan kemajuan China dalam kebudayaan perunggu.
Bangunan bamboo sederhana etnis Yao
Saatnya bersiap menuju terminal bus utk melanjutkan perjalanan ke Haikou di P. Hainan. Sebuah pulau yang terpisah dari daratan China.
Bus berisi 30 tempat tidur, yang dibagi dalam 3 deret dan 2 susun. Tiap penumpang mendapat 1 tempat dilengkapi dengan kasur, bantal dan quilt. Standar kelas 1. Aku segera tertidur pulas saat bus bertolak pada pk 8 malam sampai pk 3.30.
H8. Kamis 7 Maret 2013 - Haikou
Sopir bus menyuruh penumpang turun dari bus untuk memasuki ruang tunggu pelabuhan dan selanjutnya menaiki kapal yang akan menyeberang ke P Hainan.
Menunggu untuk masuk ke kapal
Mendekati pk 5 pagi, kapal penyeberangan mulai bertolak. Para penumpang ada yang tidur, ada yang menonton film dari 2 layar monitor, ada juga yang mengobrol. Masing-masing mengisi waktunya dengan caranya sendiri.
Dingin... Mantelku tertinggal di bus. Seandainya ada secangkir kopi panas...! Sayangnya, orang China tidak punya budaya minum kopi seperti Malaysia. Menyesal aku tidak membawa kopi dalam perjalanan ini. Aku pikir aku dapat menikmati kopi China. Tak tahunya mencari kopi sulit sekali. Hanya ada kopi kaleng siap minum. Kurang pas bagi penikmat kopi ...
Kondisi kapal cukup bersih, tempat duduk yang tersedia jauh lebih banyak ketimbang jumlah penumpang. 2 laki-laki dan 2 perempuan desa , terlihat dari penampilannya, berbicara dengan suara keras sehingga menarik perhatian orang seruangan. Namun, mereka tak peduli, tetap saja berbicara dengan suara keras. Hanya 1 jam kapal menyeberang. Setelah itu berhenti selama 3jam. Baru setelah mendekati pk 9 kapal mulai merapat. Mungkin menunggu tempat untuk merapat.
Kami turun dari kapal dan kembali menaiki bus yang sama. Dan tiba di terminal akhir di Haikou pk 10.46. Benar-benar penantian yang panjang.
Back to Campus
Kami menuju kampus Hainan Normal University dan memutuskan menginap di situ. Suasana kampus mengingatkanku masa-masa kuliah dan masa kerja di P. Galang. Karena besok aku harus pulang ke Jakarta, maka siang ini aku menuju downtown untuk melihat suasana kota. Haikou, kota yang cukup besar dengan boulevard dan jalan yang lebar. Kotanya bersih, sistem transportasi publik bagus. Selain bus dan taxi, ada ojek motor dan motor yg dimodifikasi seperti becak motor. Ada taman kota yang luas dan dilengkapi dengan alat olah raga. Aku mengunjungi rumah Ha Rui, salah 1 pahlawan lokal yang bersebelahan dengan Carrefour. Ha Rui adalah tokoh yang berani mengkritik raja demi kesejahteraan rakyat.
Malam hari, aku mengajak makan malam sejumlah mahasiswa. Melihat keramaian jalan yang penuh dengan jajanan kaki 5 di sekitar kampus dan makan di restoran dengan harga kampus. Ber-6 makan kenyang dengan 4 macam lauk hanya CNY 75. Murah sekali...
H9. Jumat 8 Maret 2013
Berakhirlah perjalanan ke China kali ini. Akankah aku kembali untuk ke kota-kota lainnya ? Taxi membawaku ke bandara Meilan yang tak terlalu jauh dari kota. Dalam 30 menit aku tiba. Argometer menunjukkan CNY 49 tetapi aku membayar CNY 60 sesuai kesepakatan awal.
Bye..bye China.. Pagi ini aku pulang ke Jakarta melalui Singapore.
Sampai jumpa di perjalanan ke China berikutnya… Kunming, Dali, Chengdu and Xian. Kapan ya…?
Dari situ, aku menyusuri jalan yang lumayan sepi sampai akhirnya tiba di keramaian Beijing Road. Beijing Road mirip dengan MyeongDong di Seoul, penuh dengan outlet barang bermerk. Sepanjang jalan penuh dengan hiasan lampion merah. 1 hal yang ingin kulihat di Beijing Road adalah jalan kuno yg ditemukan di bawah pedestrian pertokoan ini. Dan sisa jalan tersebut ditampilkan dengan ditutupi kaca tembus pandang. Sungguh menakjubkan... Jalan yang sudah berusia ratusan tahun masih bisa terlihat utuh dan kokoh. Jalan terbuat dari batu keras yg disusun tanpa mesin. Kebudayaan China memang patut diacungi jempol.
Maket di museum menunjukkan bahwa Yuexiu Park memiliki beberapa puncak, dimana di setiap puncak terdapat 1 tempat menarik. Wah, kalau aku tahu sebelumnya, aku tentu tak berani ke Yuexiu Park. Kakiku sakit...!
Sudah kepalang tanggung, kaki sudah sakit tetapi masih ada 1 puncak dengan lebih dari 100 anak tangga yg harus kudaki menuju patung 5 kambing yg merupakan 'landmark' Guangzhou. Naik atau tidak ? Naiklah... demi memuaskan rasa penasaran melihat patung kambing yang terlihat dari anak tangga yg paling bawah. Oh, beginilah maskot Guangzhou yang merupakan replika raksasa dari patung aslinya yg tingginya tak lebih dari 1 meter yang disimpan di Zenhai Museum.
Keluar dari gerbang barat Yuexiu Park, aku mencari-cari musoleum raja Nanyue. Lagi-lagi rekan perjalananku malu bertanya, aku yang tak bisa berbahasa Cina plus orang Cina yg seakan-akan enggan menjawab dan berbicara dengan nada yang tidak ramah membuatku selalu kesulitan menemukan suatu tempat.
Setelah salah jalan, akhirnya kutemukan musoleum tersebut. Aku sungguh tidak menduga bisa masuk dan menginjak sendiri kubur raja masa lalu. Di dalam tanah yang berisikan ruang-ruang bersekat dinding batu, di situ ditunjukkan ruang tempat jenazah raja disemayamkan, di ruang sebelahnya terdapat peti kaca berisikan sisa tubuh selirnya. Aku langsung teringat piramid di Mesir yg hanya pernah kulihat dalam film 3D. Seperti inikah bagian dalam piramid ? Kalau sang raja Nanyue diperkirakan mati di usia 40-45 thn, lalu kapan selir itu mati ? Kenapa hanya dia yang dikuburkan di tempat yang sama ? Kenapa raja mati di usia yang muda ? Rupanya adalah hal yang wajar bahwa raja jaman dahulu mati di usia segitu karena kehidupan seksualnya yang terlalu berlebihan. Pantas…!
Di bagian lain dari museum, dipamerkan berbagai benda peninggalan kerajaan tersebut. Hal yg menarik di museum ini bagaimana ditunjukkan cara penguburan raja yang diberi pakaian terbuat dari batu giok 'jade' berbentuk kotak-kotak kecil dan dirangkai dengan benang perak. Jenazah yg sudah berbalutkan jade itu di dalam peti masih dialasi dgn piringan jade yang disusun teratur di atas, di bawah dan di samping kanan kiri tubuhnya. Setelah itu, peti juga dipaku dengan jade, baru diletakkan di ruangan bawah tanah. Aku bertanya_tanya utk apakah fisik yang sudah mati diperlakukan secara mewah dan berlebihan ? Bukankah itu tidak akan menghidupkannya ?
Tujuan terakhir sebelum meninggalkan Guangzhou adalah Chen Clan Academy, yang merupakan rumah peninggalan marga Chen. Rumah ini mengingatkanku pada sekolahku semasa SMU di SMA Kebon Dalem Semarang. Gedung sekolahku juga merupakan rumah kapitan China. Chen Clan Academy luas dan indah. Dengan lebar hampir 100 m dan panjang lebih dari 50m, gedung batu itu terbagi 3 bagian, kiri dan kanan yang berupa kamar dan tengah berupa ruang terbuka. Bagian kiri dan kanan pun terbagi atas beberapa ruang. Sementara di ruang terbuka, diantaranya dibuat ruangan tertutup yang menghubungkan bangunan kiri dan kanan. Ini mengingatkanku akan 'Forbidden City', dimana begitu masuk ke gerbang, kita akan menemukan ruang terbuka luas yang mengarah ke suatu gerbang lain menuju ke ruang terbuka lain.
Rakit bambu yang didayung secara manual membawa 2-3 peserta tour mengarungi sungai yang jernih yang kedalamnya antara 75 cm - 2meter menurut perkiraanku.
Jumat, 22 Februari 2013
Langganan:
Postingan (Atom)





