Seperti biasa low-cost airlines Air Asia jadi pilihan meskipun kami harus transit dan menginap di bandara Kuala Lumpur.
Tujuan pertama adalah Yangoon, salah satu kota utama di Myanmar dimana Kuil Shwedagon berada. Saat kunjungan, Shwedagon cukup ramai dengan pengunjung, baik turis maupun warga lokal yang mau beribadah. Selain berlapiskan emas, yang menarik adalah lantai. Pengunjung wajib melepas sandal/sepatu. Tadinya saya meragukan apakah kaki saya akan kuat menahan panas di lantai yang terpapar matahari langsung. Dugaan saya salah, lantai tetap dingin karena terbuat dari marmer alam. Bagian lantai yang rusak, diganti dengan keramik atau sejenisnya yang panas bila terpapar matahari.
Selain Shwedagon, tempat yang bisa dikunjungi adalah alun-alun Yangoon dimana gereja, kuil, mesjid terletak berdampingan. Sebagai turis, saya tidak melihat adanya konflik diantara warga seperti masalah Rohingya yang digembar-gemborkan dunia. Saya menjumpai suku Rohingya yang penampilannya secara fisik berbeda dengan orang Myanmar. Keadaan kota juga aman. Alun-alun adalah pusat keramaian Yangoon dimana ada banyak pusat jajan tradisional dimana pengunjung duduk di bangku rendah di sekitar penjual. Harga makanan di Yangoon juga tidak terlalu mahal. Yang unik dari transaksi makanan adalah bon makanan. Pajak diwujudkan dalam bentuk meterai.
Ada pasar utama di Yangoon dimana saya membeli beberapa lukisan kanvas dengan harga yang relatif murah. Dengan USD 225 saya bisa mendapat 5 lukisan berukuran cukup besar. Transaksi di Yangoon sebagian menggunakan USD. Transportasi menggunakan taxi dan kita perlu menawar dulu.
Kota selanjutnya adalah Bagan. Perjalanan Yangoon ke Bagan ditempuh dengan bus malam dan sebelum tiba di Bagan kita diwajibkan membayar sebesar USD25/orang untuk perawatan kuil di Bagan. Memang wajar kalau harus dipungut di awal sebab di Bagan ada ratusan kuil besar dan kecil yang bisa dilihat dari kejauhan sehingga tidak memungkinkan memungut biaya perawatan tepat di lokasi. Saya dan keluarga memilih menyewa 2 motor listrik untuk menjelajah kota Bagan. Ini lebih baik daripada mobil ataupun kereta kuda. Motor bisa masuk sampai di depan kuil, mudah dikendarai dan murah serta bisa sesuai kehendak kita karena kita tidak harus bertenggangrasa dengan peserta lain bila mengikuti tour dengan bus. Kereta kuda juga tidak bisa menjelajah sejauh motor.
Saya sungguh menikmati 2 hari di Bagan, meskipun warung makanan di sini lebih sederhana dari yang ada di Yangoon
Perjalanan selanjutnya adalah Mandalay. Jujur, ini negara yang paling tidak nyaman untuk transportasi darat selain Cambodia. Jalanan berdebu, pemandangan tidak bagus , kumuh dan wilayahnya masih belum tersentuh pembangunan secara maksimal. Mandalay ternyata lebih bersih dan lebih nyaman daripada Yangoon yang kotanya terasa lebih kumuh.
Jalanan di Mandalay besar dan bersih. Saya menyewa taxi untuk mengunjungi daerah wisata di sana.
Saya sengaja datang di satu vihara untuk melihat ritual makan pagi dimana para bhiksu muda melayani biksu yang lebih tua. Ternyata anak-anak tetaplah anak-anak meski mereka berpakaian bhiksu. Mereka tetap bercanda bila tak ada yang mengawasi.
Dan saya melihat ada papan aturan hidup yang sangat bagus bila semua orang menjalankannya.
Agak jauh dari Mandalay dan bisa ditempuh dengan taxi, sambung dengan kapal dan kereta kuda, saya menyaksikan kehidupan pedesaan di sana.
Ada juga satu tempat menarik yaitu jembatan yg begitu terkenal dimana orang pada berkumpul saat sunset.
Di Mandalay ini saya sempatkan melihat sebuah kuil cantik dimana banyak orang berdatangan untuk melihat sunrise dari ketinggian. Kami berangkat subuh saat masih gelap dan lebih terpukau dengan keindahan bagian dari kuil tersebut.
Inle Lake tidak boleh dilewatkan. Ini adalah sebuah tempat wisata danau dengan perkampungan airnya. Ada restoran dan home industri. Saat kita menyewa perahu, ada paket yang bisa dipilih. Perjalanan cukup menyenangkan karena diselingi dengan kunjungan ke produsen kerajinan tangan, resto dan kebun di atas air.
Seusai dari Inle Lake , kami kembali ke Yangoon untuk pulang ke Indonesia melalui Kuala Lumpur.
Saya menyempatkan naik KRL yang mengelilingi kota Yangoon, namun yang saya dapatkan hanya kekecewaan yang besar. KRL dipenuhi dengan warga lokal, pedagang asongan dan sejumlah turis yang saya kira juga "terjebak". Habis waktu, tapi yang saya saksikan hanyalah kejorokan kota Yangoon.












































Tidak ada komentar:
Posting Komentar