Selasa, 30 November 2010

Hari Pertama ... Jakarta - Pantai Timur Utara Amerika - Taiwan


Biasanya aku melakukan perjalanan sendiri. Tidak mengikuti tour, tetapi merancang sendiri jadwal perjalanan. Seperti backpacker , hanya saja aku tidak sampai menumpang di rumah para anggota 'hospitality club' atau "couch surfing". Aku merasa lebih nyaman bila tinggal di hostel karena aku bisa keluar masuk semauku dan tetap bisa berinteraksi dengan masyarakat negara yang aku kunjungi.

Perjalanan kali ini berbeda. Aku pergi bersama temanku yang biasanya duduk manis di dalam perjalanan tour yang sudah teroganisir dengan baik. Agar adil, maka perjalanan kali ini memakai dua cara. Yang pertama adalah perjalanan mandiri ala aku dan yang berikutnya perjalanan ikut tour ala temanku.

Hari pertama - kedua adalah perjalanan mandiri. Aku harus mengurus sendiri dari saat mendarat hingga tiba di hotel. Ternyata banyak pengalaman yang mendebarkan dan menantang. Mulai dari terusir dari Terminal 1 karena terminal akan ditutup, berpindah dari 1 terminal ke terminal lain dalam JFK airport sampai akhirnya aku menginap di Terminal 4. Rupanya banyak juga para penginap di situ. Tua muda dan para keluarga. Aku tidak sendirian. Dan ternyata menginap di terminal juga oke. Meski ada perasaan seperti 'gelandangan'.

Sampai di hotel pada pk 7 pagi , karena kesalahpahaman, aku ditolak dan baru bisa check in beberapa jam lagi, pada pk15.00. Padahal, sudah semalaman aku tak tidur, rambut kotor, belum mandi lebih dari 24 jam, membawa kopor berat. Lengkap sudah penderitaanku. Akhirnya, karena tak mau membuang waktu, dengan masih dalam keadaan jetlag, aku cuci muka, siram rambut sedikit dan kembali ke kota. Kali ini dari Newark ke New York. Hari sudah terang, jadi tak ada yang perlu dikawatirkan.

Dengan shuttle bus dari Newark Sheraton Airport Hotel aku menuju Newark International Airport. Dari situ naik Airtrain menuju New York Penn Station, lalu berganti subway ke Chinatown. Untungnya, para penjaga karcis Airtrain maupun subway pada ramah. Diajarinya aku cara membeli tiket dengan mesin. Maklum di Jakarta tak ada. Kali ini perjalanan lebih mudah Namun, aku turun di tempat yang salah. Memang sih di Canal Street. Tapi Canal Street kan panjannnng sekali. Rupanya aku turun di daerah bagian lain dari Chinatown. Pantas... kok beda dengan gambar yang di internet. Sepertinya Bukit Bintang Malaysia lebih keren. Tapi saat itu aku hanya bertanya-tanya kenapa tidak seramai yang kuharapkan.

Angin besar dan dingin hampir menerbangkan teman perjalananku yang langsing. Meski rada-rada pusing, aku terus berjalan , mencari sepatupengganti sepatuku yang mendadak pecah dan rusak parah. Perut keroncongan, tapi makanan yang ada di pinggir jalan bukan seleraku yang masih berselera lokal. Chinese food tak ada. Yang kutemukan Popeye. Akhirnya, dengan terpaksa siang itu aku makan kentang dan ayam goreng. Yah, maunya sih nasi....!

Thousand Islands











Indonesia yang punya ribuan pulau kecil bisa meniru Thousand Islands yang terletak di 2 negara, Canada dan USA. Manajemen pengelolaannya sungguh bagus.

Sepertinya setiap pulau dimiliki oleh seseorang. Yang lebih kaya memiliki pulau dan rumah yang besar. Yang kurang kaya memiliki pulau yang lebih kecil dengan rumah yang lebih sederhana.

Meski di situ ada puluhan atau ratusan pulau dengan sebuah rumah di atasnya, tidak terlihat adanya yacht atau perahu atau moda transportasi lainnya di sekitar tempat hunian tersebut. Ini membuat perairan tidak tercemar dan pemandangan juga lebih indah.

Katanya saus salad yang terkenal itu berasal dari daerah ini. Kebenarannya...??

Jumat, 26 November 2010

Pameran Bunga Internasional






Kebetulan sekali...! Saat aku ada di Taipei, ada pameran bunga yang menakjubkan. Tempat yang seharusnya merupakan tribun penonton dipenuhi dengan hamparan bunga berwarna-warni.

Sedangkan di dalam gedung, ada pemandangan yang lebih menarik.
Berbagai variasi taman ditampilkan. Pemandangan yang memikat.

Ada taman dari Jepang, juga dari Bali.
Kayu-kayu ranting diikat sedemikian rupa menjadi rangkaian yang menarik.

Taiwan



Yang berbeda dari Taipei dan penduduknya :

1. Tertib berlalu-lintas. Biar jalanan sepi, tapi kalau lampu tanda menyeberang belum berwarna hijau, para pejalan kaki rela menunggu sampai waktu menyeberang tiba.

2. Sungguh sulit mencari tong sampah di tepi jalan atau di tempat umum.
Mengherankannya, jalanan bersih.

3. Jumlah pemakai sandal di tempat umum sangat sedikit. Hampir semua memakai sepatu. Mungkin hanya 5 dari 100 orang yang memakai sandal.

4. Umumnya warung hanya menjual makanan atau minuman saja, bukan gabungan dari keduanya. Makan di sini, minum di sana.

5. Biar stasiun kereta penuh orang berlalu lalang, yang terdengar hanya suara sepatu. Tak banyak orang yang bercakap dengan keras, bertelepon apalagi bercanda meski mereka anak-anak muda.

6. Tidak seperti negara Asia lainnya, US dollar agak sulit diterima untuk pembayaran. Padahal kadang di daerah tersebut tidak ada money changer. Repot, bukan ?


Sebetulnya Taiwan bukan tujuan utama, tapi karena bepergian dengan China Airlines, ya sekalian mampir, daripada lain kali pergi dengan biaya tersendiri. Ternyata , Taiwan sangat nyaman dan kota yang ramah. Biar kami sama-sama tidak bisa berkomunikasi, aku tidak bisa bahasa setempat, penduduk setempat banyak yang tidak bisa berbahasa Inggris, tetap saja mereka mau membantu.

Persinggungan pertama dengan penduduk lokal saat makan di restoran. Orang Indonesia 'notorious' (terkenal karena keburukannya) di Taipei. " Orang Indonesia miskin, ya?"
Aku jadi ingat bahwa mereka menghubungkannya dengan para amoy dari Singkawang (aku pernah tinggal di situ 9 tahun dan sering menterjemahkan surat-surat untuk keperluan perkawinan antar bangsa tersebut) yang pada kawin dengan orang Taiwan. Teman seperjalananku malah berucap , " Pantas, kita ditungguin. Takut kita nggak bayar makanannya". Aku berpikir lain, " Jangan-jangan kita dikira lagi mau cari jodoh atau
malah mak comblang". Penampilan kami memang bukan penampilan backpacker, yang umumnya muda usia. Koper besar yang kami bawa dari USA, kami titipkan di bandara, jadi kami hanya berbekal ransel berisi pakaian selama 3 hari. Plus, para mak comblang memang biasanya para ibu setengah baya. Tidak salah kalau pemilik warung berkata seperti itu pada kami.

Yang Lemah, yang Cengeng dan yang Penakut

Beberapa hari ini aku berhadapan dengan 3 orang dengan 3 kepribadian yang berbeda.

Si Ani selalu tampak panik bila tidak berada di 'comfort zone'nya. Di luar arena, dia sangat bergantung secara emosional pada orang yang ada di dekatnya. Ada kejadian sedikit yang tidak mengenakkan atau mengagetkan, dia sudah tertekan. Padahal kejadian itu menimpa orang lain dan Ani hanya penonton. 2 kejadian tak enak berturut-turut membuat dia merasa mengalami pencobaan.

Barbie lain lagi. Dia sering 'mewek-mewek' saat bercerita padahal yang diceritakan masalah perjalanan. Rasanya tidak ada yang dramatis sehingga perlu sampai menangis. Tapi dalam 45 menit, dia sudah mewek 4-5 kali.

Claudia maunya nempelllll terus. Begitu aku lepas dari pandangan matanya, dia akan berusaha mencari aku dan menempel lagi. Padahal aku tidak mungkin tega meninggalkan dia. Aku hanya berjalan beberapa belas meter dan berusaha agar masih dalam jangkauan penglihatannya, tetap saja C membuntuti aku. Sebegitu takutnya...!


Rabu, 24 November 2010

Washington DC



Independence Hall & Liberty Bell





Liberty Bell, lonceng bersejarah yang berusia ratusan tahun sudah retak dari atas ke bawah dan membuat celah yang cukup lebar. Tidak diketahui apakah lonceng itu akan diperbaiki atau dibiarkan apa adanya untuk menunjukkan keotentikannya.




Independence Hall tidak terlihat mencolok dibandingkan dengan gedung-gedung sekitarnya. Padahal itu gedung bersejarah. Saat ini gedung sedang di rehabilitasi.
Untuk masuk ke dalam gedung dan menyaksikan dari dekat 'Liberty Bell' , pengunjung akan melalui skrining ketat seperti masuk ke bandara. Perlakuan seperti ini terjadi juga di gedung-gedung bernilai politis yang aku kunjungi.



Daerah sekitar Independence Hall memang tidak terlalu ramai. Padahal jalan itu mengarah ke Market Street.

Rabu, 10 November 2010

Rockefeller Center




Kapan ya Jakarta punya tempat ngumpul seperti ini?
Selain tempat terbuka, di daerah ini ada tempat untuk main, makan dan toko-toko yang terletak di bawah tanah. Di dekat situ, ada juga markas NBC yang terkenal seantero dunia. Gedungnya sungguh sederhana.

Jumat, 05 November 2010

Kaki Lima


Antre hotdog di Ottawa- Canada



Di Toronto Canada, kaki lima yang mobile.


Kaki lima di depan Capitol Building - USA


Kegigihan imigran Asia di USA patut diteladani




Ternyata di New York City ada juga kaki lima. Kok tidak dikejar Petugas Tibum seperti di Jakarta, ya ? Kulihat banyak pedagang kaki lima di kota-kota besar seperti dalam foto di atas. Sepertinya mereka tidak berbeda dengan pedagang kaki lima di Jakarta. Menempati badan jalan...! Hanya jumlahnya memang tak sebanyak di Jakarta. Sedikit yang ingin jadi pedagang kaki lima atau sulit mendapat izin jualan ? No idea.

Fifth Avenue & The Empire State Building






The Empire State Building terletak di salah satu bangunan di sepanjang jalan ini.
Kalau dilihat dari bawah tanpa melihat ke langit,tak akan ada yang menyangka bahwa yang dimasuki adalah salah satu gedung tertinggi di dunia. Kami harus antre mengular dan membayar USD20 hanya untuk melihat New York City dari ketinggian. Kalau tahu yang bakal kulihat, rasanya sayang duit sebesar itu. Tapi sudah terlanjur melihat, ya inilah komentarku.

Tanah di NYC mungkin sedemikian mahal sehingga tidak menyisakan lahan kosong yang memadai antara 2 bangunan. Dari atas, gedung-gedung tinggi seperti mainan LEGO yang terhampar. Tak ada kehijauan, semua tembok beton.

Sisa Serangan Teroris




Nama Indonesia cukup terkenal di Amerika sehubungan dengan serangan teroris ke World Trade Centre NYC. Dampaknya, tiap kali masuk ke kantor imigrasi, aku mendapat perhatian lebih.



Inilah sisa-sisa fondasi World Trade Centre yang hancur saat peristiwa 911.
Saat ini WTC sedang mulai dibangun kembali. Saat melihat lokasinya, aku sungguh tidak menyangka bahwa WTC berhimpitan dengan gedung lain. Beda dengan gedung tinggi di Indonesia yang selalu 'stand alone', dikelilingi lahan kosong yang cukup luas.

Menghargai Prestasi Warga




Pemerintah kota New York tahu benar menghargai prestasi warganya.
Tulisan yang terpampang di jalanan di sekitar Wall Street sungguh merupakan ucapan terima kasih kepada warga yang berprestasi.

United Nations




Gedung United Nations /PBB yang sederhana sungguh kontras dibandingkan dengan bangunan pencakar langit megah yang terletak tepat di seberangnya.

Tipikal Amerika Serikat! Mau masuk ke gedung United Nations, pemeriksaan sangat ketat. Jadi teringat saat masuk ke Kedutaan AS di Jakarta 4 tahun lalu saat aplikasi visa. Sepatu pun dilepas. Semua barang dimasukan ke mesin untuk dicek isinya. Minuman dalam botol terpaksa dibuang.

Saat itu UN sedang mengadakan kampanye tentang HIV. Bagaimana para relawan berusaha menemukan para penderita HIV dan mengajaknya berobat. Ada yang berhasil diperpanjang usianya meski tetap mengidap HIV, namun ada juga yang meninggal secara tragis.
Gara-gara keasyikan membaca satu per satu berita plus menyaksikan foto-foto yang dikomentari, aku sampai terlambat masuk ke bus. Wah, jadi tontonan seluruh peserta tour! Malunya...! Bagaimana tidak telat, masa diberi waktu hanya 30 menit!

Wall Street - New York



Inilah gedung-gedung tempat roda ekonomi dunia diputar.
Gedung New York Stock Exchange, bangunan tinggi milik Donald Trump dan Federal Reserve Hall merupakan sebagian gedung yang terletak di Wall Street


Senin, 01 November 2010

Malaikat Penolongku


Foto berikut adalah foto-foto perjalanan dari Jakarta - Pantai Timur Amerika Serikat - Canada dan Taiwan.




New York - 15 Oktober 2010

Aku menginap di Terminal 4 sebelum melanjutkan perjalanan menuju Newark Sheraton Airport Hotel karena harus menunggu pagi menjelang. Dengan Air Train dan subway aku menuju ke hotel. Pertolongan yang tak diduga datang dari beberapa orang yang kutemui sepanjang perjalanan, bagaikan malaikat yang dikirim Tuhan. Subway yang gelap dan sepi serta suasana subuh membuatku jadi takut dan curiga pada orang-orang yang berniat menolongku dengan tulus.

Malaikat pertama adalah seorang perempuan black American yang menemberitahuku agar aku turun di 34th Street bila hendak berhenti di New York Penn Station. Dia memberikan instruksi, " Keluar dari station ini dan jalan 1 blok, belok kiri, dari situ naik NJ Transit". Perintah yang tidak kupahami. Akhirnya, aku mengikuti petunjuk jalan dan tiba di jalur PATH, kereta subway tua. Bukan NJ transit yang modern.

Malaikat ke dua seorang pemuda black American yang memberitahuku cara membeli tiket menuju Newark Penn Station. Setelah tiket terbeli dan kau mau berjalan, dia memanggilku dan meminta uang USD1." Oh, kamu ketahuan, ternyata kamu gelandangan."
Cepat-cepat aku suruh temanku beri uang itu dan berlalu.

Malaikat ke 3 tiba saat kopor temanku tersangkut di pintu palang berputar.
Pria kulit putih bertampang rada menakutkan (mungkin karena subuh dan suasana terowongan yang tua, kumuh, jelek dan tidak terang benderang)datang membantu, bahkan sampai mengangkatkan kopor melewati tangga biasa, mengantar kami ke platform tempat kereta berangkat. "Aduh, Tuhan aku takut tapi aku tidak tahu jalan". Ternyata pria tersebut bermaksud baik. Dosanya aku....!

Malaikat ke 4 kutemui saat aku mau naik kereta PATH. Tiba ada pengumuman , " Kereta tidak akan berhenti pada tempat seperti biasa karena hari ini adalah weekend. Kalian harus berganti kereta di ...". Mati aku ..! Bagaimana aku yang tidak tahu arah dan tidak punya peta jalur kereta? Malaikat perempuan black American yang dalam perjalanan pulang ke rumah inilah yang menanyakan pada masinis dan menyelesaikan masalahku. Aku sempat bercanda selama perjalanan. Senang rasanya ada orang-orang ramah di sekitarku. Pergantian kereta tidak menjadi masalah karena aku mengikuti instruksi perempuan ini. Tiba saatnya dia harus turun dan tidak lupa dia memberitahuku untuk turun station ke 2 setelah ini.

Lega akhirnya tiba juga aku di Newark Penn Station. Langit sudah terang. Tak ada yang perlu ditakutkan. Hanya saja kopor yang berat itu merepotkan. Tiba-tiba entah dari mana datangnya, muncul malaikat ke 5. Pria muda kulit putih bertampang eksekutif. Dia membantu mengangkat 2 kopor masing-masing 15kg-an minimal melewati tangga tak ber-escalator. Mencarikan taxi, menawar dan memastikan aku selamat tiba di tujuan. Thanks God! Daripada aku repot-repot ke EWR airport dan berganti shuttle bus dengan beban kopor berat, lebih baik aku langsung ke hotel dengan taxi. Selisihnya cuma USD8. Oh Tuhan, luar biasa pertolonganmu. Ini pasti berkat doa yang kudaraskan selama di perjalanan. Newark Sheraton, we are coming!