Biasanya aku melakukan perjalanan sendiri. Tidak mengikuti tour, tetapi merancang sendiri jadwal perjalanan. Seperti backpacker , hanya saja aku tidak sampai menumpang di rumah para anggota 'hospitality club' atau "couch surfing". Aku merasa lebih nyaman bila tinggal di hostel karena aku bisa keluar masuk semauku dan tetap bisa berinteraksi dengan masyarakat negara yang aku kunjungi.
Perjalanan kali ini berbeda. Aku pergi bersama temanku yang biasanya duduk manis di dalam perjalanan tour yang sudah teroganisir dengan baik. Agar adil, maka perjalanan kali ini memakai dua cara. Yang pertama adalah perjalanan mandiri ala aku dan yang berikutnya perjalanan ikut tour ala temanku.
Hari pertama - kedua adalah perjalanan mandiri. Aku harus mengurus sendiri dari saat mendarat hingga tiba di hotel. Ternyata banyak pengalaman yang mendebarkan dan menantang. Mulai dari terusir dari Terminal 1 karena terminal akan ditutup, berpindah dari 1 terminal ke terminal lain dalam JFK airport sampai akhirnya aku menginap di Terminal 4. Rupanya banyak juga para penginap di situ. Tua muda dan para keluarga. Aku tidak sendirian. Dan ternyata menginap di terminal juga oke. Meski ada perasaan seperti 'gelandangan'.
Sampai di hotel pada pk 7 pagi , karena kesalahpahaman, aku ditolak dan baru bisa check in beberapa jam lagi, pada pk15.00. Padahal, sudah semalaman aku tak tidur, rambut kotor, belum mandi lebih dari 24 jam, membawa kopor berat. Lengkap sudah penderitaanku. Akhirnya, karena tak mau membuang waktu, dengan masih dalam keadaan jetlag, aku cuci muka, siram rambut sedikit dan kembali ke kota. Kali ini dari Newark ke New York. Hari sudah terang, jadi tak ada yang perlu dikawatirkan.
Dengan shuttle bus dari Newark Sheraton Airport Hotel aku menuju Newark International Airport. Dari situ naik Airtrain menuju New York Penn Station, lalu berganti subway ke Chinatown. Untungnya, para penjaga karcis Airtrain maupun subway pada ramah. Diajarinya aku cara membeli tiket dengan mesin. Maklum di Jakarta tak ada. Kali ini perjalanan lebih mudah Namun, aku turun di tempat yang salah. Memang sih di Canal Street. Tapi Canal Street kan panjannnng sekali. Rupanya aku turun di daerah bagian lain dari Chinatown. Pantas... kok beda dengan gambar yang di internet. Sepertinya Bukit Bintang Malaysia lebih keren. Tapi saat itu aku hanya bertanya-tanya kenapa tidak seramai yang kuharapkan.
Angin besar dan dingin hampir menerbangkan teman perjalananku yang langsing. Meski rada-rada pusing, aku terus berjalan , mencari sepatupengganti sepatuku yang mendadak pecah dan rusak parah. Perut keroncongan, tapi makanan yang ada di pinggir jalan bukan seleraku yang masih berselera lokal. Chinese food tak ada. Yang kutemukan Popeye. Akhirnya, dengan terpaksa siang itu aku makan kentang dan ayam goreng. Yah, maunya sih nasi....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar