Jumat, 26 November 2010

Taiwan



Yang berbeda dari Taipei dan penduduknya :

1. Tertib berlalu-lintas. Biar jalanan sepi, tapi kalau lampu tanda menyeberang belum berwarna hijau, para pejalan kaki rela menunggu sampai waktu menyeberang tiba.

2. Sungguh sulit mencari tong sampah di tepi jalan atau di tempat umum.
Mengherankannya, jalanan bersih.

3. Jumlah pemakai sandal di tempat umum sangat sedikit. Hampir semua memakai sepatu. Mungkin hanya 5 dari 100 orang yang memakai sandal.

4. Umumnya warung hanya menjual makanan atau minuman saja, bukan gabungan dari keduanya. Makan di sini, minum di sana.

5. Biar stasiun kereta penuh orang berlalu lalang, yang terdengar hanya suara sepatu. Tak banyak orang yang bercakap dengan keras, bertelepon apalagi bercanda meski mereka anak-anak muda.

6. Tidak seperti negara Asia lainnya, US dollar agak sulit diterima untuk pembayaran. Padahal kadang di daerah tersebut tidak ada money changer. Repot, bukan ?


Sebetulnya Taiwan bukan tujuan utama, tapi karena bepergian dengan China Airlines, ya sekalian mampir, daripada lain kali pergi dengan biaya tersendiri. Ternyata , Taiwan sangat nyaman dan kota yang ramah. Biar kami sama-sama tidak bisa berkomunikasi, aku tidak bisa bahasa setempat, penduduk setempat banyak yang tidak bisa berbahasa Inggris, tetap saja mereka mau membantu.

Persinggungan pertama dengan penduduk lokal saat makan di restoran. Orang Indonesia 'notorious' (terkenal karena keburukannya) di Taipei. " Orang Indonesia miskin, ya?"
Aku jadi ingat bahwa mereka menghubungkannya dengan para amoy dari Singkawang (aku pernah tinggal di situ 9 tahun dan sering menterjemahkan surat-surat untuk keperluan perkawinan antar bangsa tersebut) yang pada kawin dengan orang Taiwan. Teman seperjalananku malah berucap , " Pantas, kita ditungguin. Takut kita nggak bayar makanannya". Aku berpikir lain, " Jangan-jangan kita dikira lagi mau cari jodoh atau
malah mak comblang". Penampilan kami memang bukan penampilan backpacker, yang umumnya muda usia. Koper besar yang kami bawa dari USA, kami titipkan di bandara, jadi kami hanya berbekal ransel berisi pakaian selama 3 hari. Plus, para mak comblang memang biasanya para ibu setengah baya. Tidak salah kalau pemilik warung berkata seperti itu pada kami.

Tidak ada komentar: