Sabtu, 26 September 2015

Phnom Penh City

Libur Lebaran 2015 kumanfaatkan dengan pergi mengunjungi Cambodia. Karena waktu yang terbatas, maka hanya Phnom Penh dan Siem Reap yang dijadikan tujuan. Di Phnom Penh, selain istana raja (Royal Palace), aku mengunjungi Tuol Sleng Genocide Museum ( no photos inside) , pasar dan The Killing Fields. Yang menarik dari negara berkembang ini adalah dalamnya jurang antara golongan kelas atas dan kelas bawah. Tuk-tuk dan sepeda motor tua dan mobil butut berebut jalan dengan mobil mewah seperti Lexus, Pajero, Audi. Mobil kelas menengah seperti Toyota Yaris, Jazz, Vios dan yang setara agak sulit dijumpai. Lebih mudah mencari mobil sekelas Alphard ketimbang mobil kelas menengah. Di negara ini juga orang membawa 2 mata uang sekaligus di dompetnya, KHR dan USD. Untuk turis asing, hampir semua transaksi dibayar dengan USD. Ini yang membuat biaya perjalanan menjadi 2x dari perkiraan. Penduduk lokal bisa membeli makanan seharga KHR 7000 seporsi. Turis selalu mendapat menu berbahasa Inggris dengan gambar dan harga minimal USD 3 (KHR 12000). Seandainya, aku bisa berbahasa Khmer, pasti perjalanan akan lebih murah. Jadi bila bepergian ke Cambodia, bawa saja uang receh USD. Tak perlu tukar KHR. Nantinya kita juga akan menerima KHR bila ada uang kembalian senilai USD 0,5. Kemampuan berbahasa inggris sopir tuktuk dan pedagang di pasar jauh di atas profesi yang setara di Indonesia. Mereka dengan fasihnya melayani turis. Di luar dugaan, tingkat kebersihan Cambodia sedikit di atas Indonesi. Padahal tadinya aku sudah berprasangka buruk atas apa yang akan kuhadapi.

Tidak ada komentar: